Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia kembali menindak tegas pelanggaran kosmetik dengan menarik 11 produk berbahan berbahaya pada awal tahun 2026. Produk-produk tersebut ditarik karena terbukti gagal memenuhi standar keamanan melalui serangkaian uji laboratorium, salah satunya karena mengandung merkuri. Kandungan ini sering dimasukkan ke dalam krim pemutih karena dapat menghambat pembentukan melanin, sehingga mengubah warna kulit menjadi putih secara instan. Meski menawarkan hasil instan yang menggoda, kosmetik bermerkuri menyimpan bahaya mematikan. Ketahui risikonya, dan cara mengatasinya ketika sudah terlanjur terpapar merkuri.
Ancama di balik merkuri dalam produk kecantikan Paparan merkuri ini tidak hanya merusak area permukaan kulit, tetapi juga bisa masuk dan merusak fungsi berbagai organ vital. Ancaman ini bahkan mengintai keselamatan janin.
"Mulai dari perubahan warna kulit yang pada akhirnya dapat menyebabkan bintik-bintik hitam pada kulit, alergi, iritasi pada kulit, serta pemakaian dalam dosis tinggi dapat menyebabkan kelainan pada ginjal, kerusakan permanen pada otak dan gangguan perkembangan janin," kata Satya Darmayani, S.Si., M.Eng, dari Poltekkes Kemenkes Kedari, mengutip Antara, Senin (11/5/2026). Kerusakan berlapis pada jaringan kulit Kosmetik dengan campuran merkuri bersifat sangat korosif. Sifat ini secara perlahan akan membuat lapisan epidermis kulit menipis dan kehilangan fungsi perlindungannya. Pemakaian rutin justru memicu kemunculan ruam-ruam kulit yang terasa perih dan terbakar. Alih-alih mendapatkan wajah yang cerah sehat bercahaya, konsumen justru akan mengalami okronosis, yaitu kondisi penebalan kulit yang disertai dengan perubahan warna menjadi kebiruan atau kehitaman pekat secara permanen akibat paparan logam berat.
Kerusakan sistem organ bagian dalam Logam berat merkuri memiliki sifat toksik yang mudah terakumulasi dan sulit terurai begitu masuk ke dalam tubuh. Paparan merkuri yang tinggi akan langsung menyerang dan merusak berbagai fungsi organ inti. Senyawa ini mampu mengacaukan saluran pencernaan, merusak sistem saraf pusat, hingga memicu kerusakan pada sistem urologi. Kerja otak, jantung, ginjal, paru-paru, serta sistem kekebalan tubuh akan terganggu. Bahan ini juga bersifat karsinogenik sehingga berisiko kuat memicu sel kanker.
Keracunan fatal pada janin Bagi perempuan hamil dan para ibu yang sedang menyusui, penggunaan kosmetik bermerkuri membawa risiko fatal bagi janin. Merkuri dapat dengan mudah menembus pori-pori, masuk ke aliran darah, lalu mengalir hingga menetap di plasenta ibu.
"Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil dan menyusui yang menggunakan produk kosmetik bermerkuri berisiko bayinya keracunan merkuri," ujar Satya.
PaparAn mematikan ini sanggup memicu kerusakan neurologis parah atau cacat lahir pada anak, seperti keterbelakangan mental, lumpuh otak, hingga kebutaan dan ketulian permanen sejak dilahirkan.
Penanganan jika terlanjur memakai skincare bermerkuri Banyak orang tidak menyadari telah menggunakan produk bermerkuri sampai akhirnya merasakan efek samping yang merugikan. Langkah penanganan dini yang dapat dilakukan adalah segera menghentikan pemakaian produk tersebut secara total, dan membersihkan sisa krim yang masih menempel di wajah. "Pada beberapa kasus, mencuci muka dengan sabun dan air berulang kali tidak menurunkan kadar merkuri," kata dokter spesialis kulit dan kelamin, dr. Arini Astasari Widodo, SM, SpDVE, dikutip dari Kompas.com.
Segera periksakan diri ke dokter kulit untuk mendapatkan dekontaminasi yang tepat dan aman.
Merkuri yang telah terserap dapat bertahan berhari-hari di dalam jaringan kulit, sehingga membutuhkan pengawasan medis untuk menarik sisa racun tersebut keluar dari tubuh penderita.
Selain itu, kemasan produk bermerkuri wajib dibuang ke dalam wadah anti bocor tertutup agar tidak merusak lingkungan sekitar. "Pada sebagian kasus, bergantung pada jumlah pajanan merkuri, juga berpotensi mengkontaminasi pakaian dan barang pribadi lainnya, sehingga dekontaminasi terhadap beberapa barang ini juga perlu dilakukan," ujar dr. Arini.
Jika ragu, membuang pakaian dan handuk yang biasa dipakai mengelap wajah sangat disarankan guna menghindari terjadinya kontaminasi ulang. Lengkapi proses pemulihan kulit dengan disiplin mengonsumsi makanan berserat, seperti sayur, buah, serta memperbanyak minum air putih agar regenerasi sel kulit berjalan optimal setiap harinya.
Tidak ada komentar: