Menerapkan gaya hidup berkesadaran atau mindful consumption tidak hanya penting bagi orang dewasa yang sudah berpenghasilan, tetapi juga merupakan keterampilan hidup yang penting untuk diwariskan kepada anak-anak. Edukasi finansial untuk anak sejak dini sering kali dianggap sebagai sebuah konsep yang kompleks, sehingga banyak orangtua cenderung mengambil jalan pintas dengan sekadar melarang secara sepihak saat berbelanja. Padahal, mengenalkan konsep pengeluaran yang bijak kepada buah hati membutuhkan pendekatan psikologis yang jauh lebih persuasif.
"Intinya adalah kita tidak menghakimi. Tidak menghakimi anak, tetapi memberikan pilihan gitu," kata perencana keuangan bersertifikat, Mike Rini, dalam acara halal bihalal bersama PT Kino Indonesia bertajuk "Reconnect: Building Meaning in Every Family Choice" di Jakarta, Rabu (29/4/2026). Menurut dia, peran utama orangtua bukanlah sebagai figur penentu yang kaku, melainkan sebagai fasilitator yang mengarahkan cara berpikir anak saat berhadapan dengan keinginan materialnya.
Tips mengajaran anak mindful consumption Pembentukan karakter dan pemahaman anak terhadap nilai suatu baran dibentuk secara natural dari apa yang mereka lihat dan alami setiap harinya di lingkungan rumah. Oleh karena itu, Mike menuturkan, orangtua wajib menyadari bahwa sebelum mengajarkan teori tentang nilai uang, contoh nyata dalam mengatur tatanan keseharian keluarga adalah "guru visual" yang paling efektif bagi mereka. Rumah rapi tidak ada barang yang menumpuk Menjaga keteraturan barang-barang di rumah, seperti menata isi kulkas dengan rapi dan mengemas sisa makanan yang masih layak, secara tidak langsung menanamkan pemahaman mendasar kepada anak tentang konsumsi berkesadaran. Mereka akan merekam bahwa kehidupan keluarga yang tertata dengan rapi adalah bentuk nyata dari rasa syukur dan kendali diri. "Jadi tahu bahwa yang namanya hidup, yang namanya bahagia, happy, keluarga, itu adalah yang teratur," kata Mike.
Menciptakan lingkungan yang rapi dan terstruktur mempermudah anak dalam memahami fungsi esensial dari setiap objek yang ada. Pemahaman visual yang tertanam di bawah alam sadar ini kelak akan menjadi pedoman yang memudahkan mereka dalam mencari kebutuhannya.
Anak menghabiskan makanannya Mike mengatakan, pelajaran tentang konsumsi berkesadaran harus diinisiasi dari rutinitas yang paling fundamental, yakni menghargai apa yang tersaji di hadapan mereka. Membiasakan anak untuk selalu bertanggung jawab menghabiskan porsi yang ada di piringnya adalah bentuk nyata dari gaya hidup berkesadaran tersebut.
"Makan di piring dihabiskan. Mindful consumption. Praktik sehari-hari kan?" kata Mike.
Batasi kegiatan jajan anak Selain urusan makanan, tantangan terbesar orangtua biasanya baru bermunculan ketika anak mulai merengek meminta jajan saat diajak berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Untuk menyiasati potensi drama ini, orangtua sangat dianjurkan untuk tidak merespons dengan emosi, melainkan berdiskusi secara adil sebelum melangkah keluar pintu rumah. "Kalau jajan boleh. Tapi sebelum jajan dan bawa anak, janjian dulu. Janjian nanti belanjanya segini saja (nominal atau jumlah yang sudah didiskusikan)," ucap Mike. Dengan adanya kesepakatan pengeluaran ini, anak akan secara bertahap belajar mengenai batasan kemampuan dan skala prioritas. Ia menerangkan, taktik ini menghindarkan orangtua dari kebiasaan asal melarang, sekaligus memastikan anak memiliki batasan yang terukur dalam memilih produk incarannya. Pandu anak mengambil keputusan finansial Seiring dengan bertambahnya usia, terutama saat mereka mulai memasuki fase remaja, ruang lingkup edukasi harus diperluas.
Momen seperti memberikan uang saku rutin atau uang hadiah Lebaran bisa dimanfaatkan untuk membuka ruang komunikasi dua arah yang setara antara orangtua dan anak. Saat anak sangat menginginkan suatu produk mainan tertentu, misalnya, tugas ayah dan ibu adalah memaparkan kelebihan dan kekurangan dari barang tersebut, lalu membiarkan sang anak yang mengambil keputusan finalnya. Jika anak tetap menghabiskan jatah uang sakunya untuk kesenangan impulsif, biarkan hal tersebut menjadi pembelajaran nyata melalui konsekuensi finansial yang logis. "Udah dikasih jatah, habis semuanya. Ya kalau habis ya jangan dikasih lagi. Biar dia belajar dari kesalahannya dia," saran Mike.
Menahan insting untuk langsung mengintervensi atau menutupi kesalahan finansial sang buah hati tentu bukan hal yang mudah bagi para orangtua. Namun, memberi ruang bagi anak untuk mempertimbangkan pilihan mereka sendiri adalah investasi terbaik untuk membentuk sosok anak yang cerdas dalam berbelanja.
Tidak ada komentar: