Berkaca dari Siswi SMAN 1 Pontianak, Psikolog: Speak Up Bentuk Keberanian Moral

 


Keberanian siswi SMAN 1 Pontianak yang memprotes keputusan juri dalam ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI belakangan menjadi sorotan publik. Video yang memperlihatkan peserta menyampaikan keberatan secara langsung di depan juri ramai dibicarakan di media sosial karena dinilai tenang, lugas, dan tetap sopan. Sebagai informasi, momen tersebut terjadi saat adanya perbedaan penilaian jawaban antara tim peserta yang kemudian memicu protes dari salah satu siswi. Psikolog Anak dan Remaja RS Dr. Oen Solo Baru, Yustinus Joko Dwi Nugroho, M.Psi, menilai keberanian untuk speak up sebenarnya dapat menjadi tanda berkembangnya kemampuan sosial dan emosional remaja.

“Ini merupakan tanda berkembangnya rasa keadilan, percaya diri, dan kemampuan menyuarakan kebutuhan pribadi atau pendapat diri,” ujar Joko kepada Kompas.com, Selasa (12/5/2026). Menurut dia, anak atau remaja yang berani menyampaikan pendapat biasanya telah memiliki kesadaran internal bahwa ada sesuatu yang perlu diluruskan.

Hal itu menjadi sinyal bahwa seseorang mulai memahami haknya untuk berbicara dan menyampaikan keberatan secara sehat.

Speak up bukan berarti melawan Joko menjelaskan, keberanian untuk berbicara di depan figur otoritas tidak selalu berarti bentuk pembangkangan. Dalam banyak kasus, tindakan tersebut justru dapat menunjukkan adanya keberanian moral. “Anak yang berani protes itu bukan berarti anak yang tidak sopan atau melawan,” katanya. Ia menilai masih ada sebagian orang yang memandang sikap kritis sebagai bentuk perlawanan, terutama dalam budaya yang terbiasa menempatkan figur otoritas sebagai pihak yang tidak boleh dikoreksi. Padahal, menurutnya, kritik atau masukan tetap penting selama disampaikan dengan alasan yang jelas dan cara yang tepat. “Bisa jadi dia sedang menunjukkan bahwa dia punya keberanian moral dan tidak pasif ketika ada ketidakadilan,” lanjut dia. Pentingnya komunikasi asertif Dalam psikologi, keberanian menyampaikan pendapat secara jujur namun tetap menghargai orang lain dikenal sebagai komunikasi asertif. Joko mengatakan komunikasi asertif bukan hanya soal berbicara apa adanya, tetapi juga keberanian mengambil risiko atas pendapat yang disampaikan.

“Komunikasi asertif itu artinya bukan hanya jujur, tetapi juga berani mengambil risiko,” ujarnya.

Meski demikian, ia menekankan bahwa keberanian menyampaikan protes tetap perlu dibarengi dengan adab dan etika. Menurut dia, protes yang baik bukan sekadar meluapkan emosi, melainkan disampaikan secara sopan, jelas, dan tidak menyerang pribadi. “Protes itu boleh, memberikan masukan itu bagus, tetapi harus disampaikan dengan alasan yang jelas, bahasanya sopan, dan tidak menyerang pribadi,” katanya.

Sikap kritis perlu diarahkan Lebih lanjut, Joko menilai kemampuan speak up pada anak muda merupakan hal positif yang perlu diarahkan, bukan dibungkam. Sikap kritis, menurut dia, dapat membantu remaja belajar bertanggung jawab terhadap pendapatnya sendiri.

Ia juga mengingatkan bahwa lingkungan sekolah maupun orang dewasa perlu memiliki keterbukaan terhadap kritik dan masukan dari anak-anak maupun remaja.

“Kalau memang masuk akal, ya harus diterima. Itu bagian dari sikap rendah hati,” ujar dia. Menurut Joko, keberanian menyampaikan pendapat secara sehat justru menjadi salah satu keterampilan sosial penting yang dibutuhkan anak muda di masa depan.


SUMBERhttps://lifestyle.kompas.com/read/2026/05/12/214500220/berkaca-dari-siswi-sman-1-pontianak-psikolog--speak-up-bentuk-keberanian?page=2

Berkaca dari Siswi SMAN 1 Pontianak, Psikolog: Speak Up Bentuk Keberanian Moral Berkaca dari Siswi SMAN 1 Pontianak, Psikolog: Speak Up Bentuk Keberanian Moral Reviewed by wongpasar grosir on 08.58 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.