Kapal induk terbesar di dunia milik Amerika Serikat (AS), USS Gerald R Ford, akan segera kembali ke pangkalan asalnya di Virginia pada pertengahan Mei 2026. Kepulangan ini menandai berakhirnya masa penugasan bersejarah selama lebih dari 300 hari yang mencakup berbagai operasi militer besar. Sebanyak dua pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, Ford akan mundur dari perang Iran dalam beberapa hari ke depan.
Kabar mengenai pergerakan militer yang sensitif ini sebelumnya telah dilaporkan oleh Washington Post. Pecahkan rekor penugasan terlama Berdasarkan data yang dihimpun oleh US Naval Institute News, Ford baru saja memecahkan rekor penugasan terlama bagi kapal induk AS di era pasca-Perang Vietnam.
Kapal ini sudah melaut selama hampir 10 bulan sejak bertolak dari Pangkalan Angkatan Laut Norfolk pada Juni 2025. Pada hari ke-295 di laut, Ford resmi melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh USS Abraham Lincoln pada 2020, yang saat itu bertugas selama 294 hari di tengah pandemi Covid-19. Meski demikian, durasi operasional Ford ini masih berada di bawah rekor era Perang Dingin yang dicatatkan oleh USS Midway (332 hari pada 1972-1973) dan USS Nimitz (341 hari pada 2020-2021, termasuk masa isolasi darat).
Dari penangkapan Maduro hingga perang Iran
Perjalanan USS Gerald R Ford selama hampir setahun ini diwarnai dengan misi-misi krusial di berbagai belahan dunia. Awalnya, kapal ini dikerahkan ke Laut Mediterania, tetapi kemudian dialihkan ke Laut Karibia pada Oktober sebagai bagian dari penguatan kekuatan Angkatan Laut AS. Di sana, Ford terlibat dalam operasi militer yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Tak lama berselang, seiring meningkatnya eskalasi di Timur Tengah, kapal ini diperintahkan menuju Laut Merah melalui Terusan Suez untuk berpartisipasi dalam rangkaian pertempuran melawan Iran. Namun, operasional kapal sempat terhambat akibat insiden kebakaran di ruang cuci yang memaksa kapal kembali ke Mediterania untuk menjalani perbaikan. Dampaknya, ratusan pelaut sempat kehilangan tempat tidur mereka selama proses pemulihan kondisi kapal.
Masa penugasan yang sangat panjang ini memicu kekhawatiran mengenai kondisi psikologis para awak serta kesiapan teknis kapal.
Isu ini turut menjadi sorotan dalam sidang Komite Angkatan Bersenjata DPR AS pada Rabu (29/4/2026). Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Angkatan Laut terkait masalah perawatan dan kesiapan tempur USS Gerald R Ford. “Berkali-kali kebutuhan operasional—baik di Southcom (Komando Selatan) maupun di Centcom (Komando Pusat)—menuntut aset tambahan secara real-time, yang setelah melalui proses pengambilan keputusan sulit menyebabkan perpanjangan (masa tugas),” ujar Hegseth, dikutip dari Associated Press, Kamis (30/4/2026). Meski USS Gerald R Ford ditarik mundur, kehadiran militer AS di Timur Tengah tetap berada pada level tertinggi.
Dengan kedatangan USS George HW Bush pekan lalu, kini ada tiga kapal induk Amerika yang bersiaga di wilayah itu, termasuk USS Abraham Lincoln yang sudah berada di sana sejak Januari. Situasi ini mencatatkan sejarah baru, ketika jumlah kapal induk yang dikerahkan secara bersamaan di Timur Tengah mencapai angka terbanyak sejak 2003, menyusul ketegangan yang masih tinggi dengan Teheran.
Tidak ada komentar: