Lonjakan harga plastik di pasaran membuka perhatian publik terhadap tingginya ketergantungan masyarakat pada material tersebut. Plastik yang merupakan turunan dari polimer sintetis selama ini menjadi pilihan utama industri karena murah, mudah diproduksi, dan fungsional. Namun kini harga plastik naik dipengaruhi gangguan rantai pasok global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Akademisi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Baterun Kunsah, mengingatkan bahwa di balik kepraktisannya, plastik menyimpan potensi bahaya bagi kesehatan, terutama jika digunakan untuk produk konsumsi. “Langkah paling mudah untuk menghindari bahaya plastik adalah dengan mengetahui jenis plastik yang digunakan, terutama dalam kemasan makanan maupun minuman,” ujar Kunsah, Selasa (7/4/2026).
Kenali Jenis Plastik Kunsah menjelaskan, masyarakat perlu memahami jenis plastik berdasarkan standar global yang dikembangkan The Society of the Plastic Industry dan diadopsi International Organization for Standardization (ISO).
Beberapa jenis plastik yang umum digunakan antara lain: • PET/PETE (Polyethylene Terephthalate), banyak digunakan untuk botol minuman. Jenis ini hanya disarankan untuk sekali pakai. • LDPE (Low Density Polyethylene), digunakan pada plastik fleksibel dan relatif lebih aman, meski sulit terurai.
• PS (Polystyrene) atau styrofoam, berisiko melepaskan senyawa berbahaya saat terkena makanan panas. • Kode 7 (polycarbonate/PC), dapat melepaskan bisphenol-A (BPA) jika terpapar panas. “Senyawa styrene berdampak serius pada kesehatan, mulai dari gangguan fungsi kognitif hingga kerusakan sistem saraf,” kata Kunsah.
Risiko bagi Kesehatan Ia menambahkan, beberapa senyawa dalam plastik seperti BPA dan styrene berpotensi mengganggu hormon, sistem imun, hingga fungsi otak jika terakumulasi dalam tubuh. Penggunaan ulang plastik tertentu, terutama botol minuman sekali pakai, juga dinilai berisiko. Untuk mengurangi risiko, Kunsah menyarankan masyarakat mulai beralih ke wadah yang lebih aman, seperti kaca atau logam.
“Seperti kebiasaan generasi sebelumnya yang membawa rantang saat membeli makanan, itu lebih sehat dan ramah lingkungan,” ujarnya.
Ia juga menyarankan penggunaan wadah kaca saat memanaskan makanan, serta memilih plastik berlabel polyethylene jika terpaksa digunakan. “Perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari ini adalah investasi nyata bagi kesehatan kita di masa depan,” katanya.
Tidak ada komentar: