Pembangunan Jalan Tol Semarang–Demak terus dikebut oleh Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum. Proyek sepanjang 26,95 kilometer ini terbagi menjadi dua seksi, yakni Seksi I Kaligawe–Sayung sepanjang 10,64 kilometer dan Seksi II Sayung–Demak sepanjang 16,31 kilometer. Khusus Seksi II yang berada di daratan, ruas tersebut telah beroperasi sejak 25 Februari 2023. Tak hanya sebagai infrastruktur transportasi, jalan tol ini juga dirancang berfungsi sebagai tanggul laut untuk mengatasi banjir rob di kawasan pesisir utara Jawa Tengah. Dalam pembangunannya, pemerintah mengandalkan teknologi yang terbilang baru di Indonesia, yakni penggunaan matras bambu yang dikombinasikan dengan cerucuk bambu serta Prefabricated Vertical Drain (PVD). Dirangkum dari laman resmi Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PU, Rabu (15/4/2026), penggunaan matras bambu merupakan yang pertama kali diterapkan dalam konstruksi jalan tol di Indonesia.
Meski terkesan sederhana, penggunaan bambu dalam proyek besar seperti ini tidak dilakukan tanpa pengujian. Uji Lentur dan Uji Tarik Untuk memastikan kekuatan dan keamanannya, material bambu telah melalui serangkaian uji teknis oleh Balai Bahan dan Struktur Bangunan Gedung di bawah Direktorat Jenderal Cipta Karya. Terdapat dua jenis pengujian utama yang dilakukan, yakni uji tarik dan uji lentur. Kedua pengujian ini bertujuan untuk memastikan bahwa matras bambu mampu meningkatkan daya dukung tanah dasar di lokasi konstruksi yang didominasi tanah lunak. Uji tarik dan uji lentur dilakukan untuk menjamin kehandalan matras bambu yang akan digunakan dalam konstruksi. Selain pengujian, stabilitas konstruksi juga diperkuat melalui kombinasi matras dan cerucuk bambu. Metode ini digunakan untuk menjaga kestabilan timbunan di atas tanah lunak agar tidak mengalami penurunan berlebih.
Penggunaan matras dan cerucuk bambu memiliki sejumlah manfaat. Di antaranya menjaga penurunan tanah agar tidak melampaui batas tengah timbunan, mendistribusikan beban secara merata, serta mengurangi perbedaan penurunan akibat variasi kekakuan tanah. Tak hanya itu, matras bambu juga berfungsi memberikan daya apung, sementara cerucuk bambu meningkatkan daya dukung lekat atau friction pada tanah. Dalam pelaksanaannya, proyek ini telah menggunakan sekitar 10 juta batang bambu yang didatangkan dari berbagai daerah di sekitar lokasi proyek. Penggunaan material lokal ini juga dinilai mampu memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat setempat.
Dari sisi efisiensi, metode ini juga dinilai lebih unggul. Selain itu, penggunaan matras dan cerucuk bambu mampu menekan biaya konstruksi hingga 30–40 persen dibandingkan metode lain seperti vibro stone column dan deep soil mixing. Sementara itu, teknologi Prefabricated Vertical Drain atau PVD digunakan untuk mempercepat pemadatan tanah lunak. Metode ini bekerja dengan mengalirkan air dari dalam tanah ke permukaan melalui material PVD yang dipasang menggunakan alat berat hidrolik.
Tidak ada komentar: