Perang Timur Tengah Bisa Hantam 4 Sektor Strategis di RI, Ini Kata Pengamat

 


Pengamat militer dan pertahanan dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) menilai peringatan Presiden Prabowo Subianto mengenai dampak konflik Timur Tengah terhadap Indonesia sangat relevan dengan kondisi global saat ini. “Peringatan Presiden, menurut saya sangat relevan,” kata Khairul Fahmi, saat dimintai pandangan Kompas.com, Selasa (11/3/2026). Fahmi menjelaskan, di era globalisasi yang saling terhubung seperti sekarang, tidak ada perang yang dampaknya benar-benar terisolasi. Menurut dia, konflik bersenjata antarnegara hampir selalu memicu efek domino berskala global.

“Secara umum, ketika dua negara atau lebih berperang, negara-negara lain atau negara ketiga akan mengalami guncangan dan kesulitan pada sejumlah sektor fundamental,” ujarnya. Lantas, dampak seperti apa yang bisa dirasakan negara lain, termasuk Indonesia, jika konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran terus berlanjut?

Dampak perang AS dan Israel vs Iran terhadap Indonesia Menurut analisis Fahmi, konflik di Timur Tengah bakal berdampak pada empat sektor fundamental di Indonesia, yaitu sektor ekonomi, keuangan, keamanan, hingga sosial dan politik. Berikut dampak di keempat sektor tersebut: 1. Kesulitan energi dan bahan pangan Fahmi menjelaskan, perang umumnya akan menghancurkan infrastruktur fisik dan memblokade jalur perdagangan, baik laut maupun udara. Hal ini melumpuhkan rantai pasok global sehingga menimbulkan dampak bagi negara-negara lainnya. "Bagi negara lain, dampaknya adalah kesulitan mendapatkan bahan baku industri, komoditas energi, hingga bahan pangan," kata Fahmi. "Terganggunya pasokan ini secara otomatis akan mengerek biaya logistik dan memicu lonjakan harga barang atau inflasi global," imbuhnya.

2. Nilai tukar mata uang Rupiah melemah Sektor keuangan dan stabilitas moneter juga akan terdampak perang yang pecah di Timur Tengah.

"Perang menciptakan ketidakpastian ekstrem di pasar global. Sebagai respons, para investor biasanya akan menarik dananya dari negara-negara berkembang dan memindahkannya ke aset-aset yang dianggap aman (safe havens) seperti emas atau Dolar AS," kata Fahmi.

Kondisi ini menyebabkan terjadinya pelarian modal (capital flight) sehingga akan menekan dan melemahkan nilai tukar mata uang negara-negara lain, yang pada gilirannya memperberat beban industri dalam negeri dan utang luar negeri.

3. Memicu perlombaan senjata Pada sektor keamanan nasional dan postur anggaran, dinamika perang di suatu kawasan seringkali memaksa negara-negara di sekitarnya atau negara yang memiliki kepentingan strategis untuk meninjau ulang postur pertahanan mereka. Menurut Fahmi, situasi ini bisa memicu perlombaan senjata. "Dampak buruknya, sebuah negara mungkin terpaksa merealokasi anggaran negara yang seharusnya untuk kesejahteraan, pendidikan, atau kesehatan, menjadi anggaran pertahanan dan keamanan demi mengantisipasi meluasnya konflik," terangnya.

4. Terjadi polarisasi Perang umumnya juga akan menimbulkan dampak pada sektor sosial-politik dan keamanan domestik.

Fahmi menjelaskan, konflik di luar negeri sangat bisa diimpor menjadi konflik di dalam negeri. "Adanya sentimen empati, kesamaan identitas, atau afiliasi ideologi terhadap salah satu pihak yang bertikai seringkali memicu polarisasi di masyarakat," kata dia. "Jika eskalasinya tinggi, hal ini dapat memobilisasi massa dan berpotensi mengganggu stabilitas Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas)," imbuhnya.

Dampak konflik Timur Tengah bisa lebih tajam Berdasarkan analisis tersebut, Fahmi menyimpulkan bahwa pernyataan Prabowo mengenai kemungkinan masa sulit yang akan dihadapi Indonesia sangat relevan. Bahkan, menurut dia, dampaknya bisa menjadi lebih tajam jika konflik Timur Tengah terus meningkat. “Jika hal-hal tadi ditarik ke konteks spesifik eskalasi di Timur Tengah seperti yang diperingatkan Presiden, kesulitannya menjadi jauh lebih tajam bagi Indonesia,” ujarnya.

Ia menyebut ada dua alasan utama. Pertama, Indonesia masih sangat bergantung pada energi dari luar negeri. Sementara itu, kawasan Timur Tengah merupakan pusat produksi dan jalur distribusi minyak dunia, termasuk Selat Hormuz dan Laut Merah. “Gangguan di wilayah tersebut langsung memukul harga minyak mentah global, yang otomatis mengancam ketahanan fiskal kita karena beban subsidi BBM berpotensi membengkak,” kata Fahmi.

Alasan kedua adalah resonansi domestik.

Menurut dia, isu Timur Tengah sering memiliki resonansi sosial dan politik yang kuat di Indonesia. Karena itu, pemerintah perlu berhati-hati dalam mengelola diplomasi luar negeri sekaligus menjaga kohesi sosial di dalam negeri. “Tujuannya agar tidak terjadi perpecahan di masyarakat,” ujarnya. Fahmi menambahkan bahwa perang di luar negeri sebenarnya menjadi ujian komprehensif bagi ketahanan nasional suatu negara, mulai dari ketahanan ekonomi makro hingga stabilitas keamanan domestik.

Prabowo: Indonesia menghadapi masa sulit Pernyataan Prabowo terkait dampak perang di Timur Tengah yang bakal dirasakan oleh Indonesia disampaikan saat meresmikan Jembatan Bailey dan Jembatan Armco di Aceh, Senin (9/3/2026).

Kepala Negara itu secara terang-terangan mengatakan bahwa Indonesia mengalami masa sulit akibat konflik di Timur Tengah. "Kita tidak berlindung di belakang sistem yang sudah berjalan. Kita menghadapi kesulitan dengan sikap kita ingin mengatasi kesulitan. Kita harus berani mengatasi kesulitan. Kita tidak menutupi kesulitan, kita tidak pura-pura tidak ada kesulitan," kata Prabowo, dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden. Dia menambahkan, kesulitan itu tak hanya dirasakan Indonesia saja, tetapi juga negara-negara lainnya. Adapun salah satu dampak yang akan dirasakan Indonesia adalah kenaikan harga pangan. Hal ini disebabkan karena harga minyak dunia yang melonjak. Kendati demikian, Prabowo mengatakan bahwa Indonesia patut bersyukur karena sudah hampir mencapai swasembada pangan. Dia juga menjelaskan bahwa saat ini Indonesia sudah mencapai swasembada beras yang menjadi makanan pokok penduduk Indonesia. "Yang bertahun-tahun saya perjuangkan, swasembada pangan. Dalam keadaan perang di mana-mana, dalam keadaan harga BBM menjulang sangat tinggi yang bisa mempengaruhi harga pangan, kita bersyukur bahwa kita swasembada hampir kita capai swasembada pangan," kata Prabowo, dilansir dari Kompas.com, Selasa. Dalam waktu dekat, Prabowo juga mengatakan bahwa Indonesia akan mencapai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan protein. Adapun di sektor energi, Prabowo meyakini bahwa suatu saat nanti Indonesia tidak akan ketergantungan impor BBM dari luar negeri karena dapat memproduksi sendiri di dalam negeri. Optimisme ini muncul mengingat Indonesia memiliki tanaman-tanaman seperti kelapa sawit, singkong, dan jagung yang bisa menjadi bahan energi alternatif.

Dengan kesiapan yang ada, Prabowo optimis bahwa Indonesia sudah ada di jalur yang benar. Dia juga menegaskan bahwa pemerintah akan lebih berani dalam menghadapi kesulitan tersebut. "Kita punya kekuatan yang besar. Tapi juga saya harus jujur kepada seluruh rakyat, dan saya akan memberi suatu taklimat kepada seluruh bangsa Indonesia dalam waktu dekat," jelasnya.




SUMBERhttps://www.kompas.com/tren/read/2026/03/12/063000265/perang-timur-tengah-bisa-hantam-4-sektor-strategis-di-ri-ini-kata-pengamat?page=3

Perang Timur Tengah Bisa Hantam 4 Sektor Strategis di RI, Ini Kata Pengamat Perang Timur Tengah Bisa Hantam 4 Sektor Strategis di RI, Ini Kata Pengamat  Reviewed by wongpasar grosir on 08.57 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.