Banyak anak menunjukkan perubahan suasana hati setelah liburan sekolah berakhir. Mereka menjadi lebih mudah marah, enggan kembali ke sekolah, atau terlihat kehilangan semangat. Kondisi ini sering dianggap sekadar malas atau manja, padahal bisa menjadi tanda kelelahan emosional.
Transisi setelah liburan tidak selalu mudah Selama liburan, anak terbiasa tidur lebih larut, bermain lebih lama, dan memiliki lebih sedikit aturan. Ketika sekolah dimulai kembali, mereka harus kembali pada jadwal yang teratur dan tuntutan akademik. Menurut laporan Times of India (19/1/2026), psikiater anak sering melihat beberapa perubahan setelah masa liburan, seperti: Anak lebih mudah tersinggung atau emosinya meledak Tidak bersemangat pergi ke sekolah Mengeluh lelah meski sudah tidur cukup Tidak tertarik lagi pada kegiatan yang sebelumnya disukai Pada remaja, kondisi ini bisa disertai menarik diri dari lingkungan sosial atau muncul kecemasan berlebihan terhadap nilai dan ujian.
Awal tahun biasanya bertepatan dengan ujian atau penilaian sekolah. Banyak anak menyimpan tekanan dari orangtua, guru, dan diri sendiri tanpa mengungkapkannya. Psikiater kerap menemukan tanda seperti: Anak terlalu keras menilai diri sendiri Takut gagal dan menghindari tugas sekolah Keluhan fisik seperti sakit kepala atau sakit perut tanpa penyebab medis jelas Tanda-tanda ini bukan masalah perilaku semata. Kondisi tersebut bisa menjadi sinyal adanya tekanan emosional yang perlu diperhatikan.
Pengaruh tidur, layar, dan kurang aktivitas luar ruangan Selama liburan, pola tidur anak sering berubah dan penggunaan gawai meningkat. Pada musim dengan waktu siang lebih pendek, aktivitas luar ruangan juga berkurang. Kurang tidur dapat memengaruhi emosi, konsentrasi, dan daya ingat. Pada remaja, pola tidur yang tidak teratur dapat memperburuk kecemasan bahkan memicu gejala depresi, meski sebelumnya tidak memiliki riwayat gangguan mental. Kapan orangtua perlu waspada? Perasaan tidak bersemangat dalam beberapa hari pertama masih tergolong wajar. Namun orangtua perlu mencari bantuan profesional jika gejala: Bertahan lebih dari dua hingga tiga minggu Mengganggu kehadiran di sekolah atau aktivitas harian Disertai rasa putus asa atau perubahan nafsu makan Muncul ucapan tentang melukai diri atau merasa tidak berharga Penanganan lebih awal dapat mencegah masalah berkembang menjadi lebih serius.
Peran orangtua sangat penting Konsultan Psikiatri Anak dan Remaja di Narayana Health SRCC Children’s Hospital, Mumbai, Dr. Shorouq Motwani, menjelaskan bahwa anak tidak selalu bisa menjelaskan apa yang mereka rasakan. Perubahan perilaku sering menjadi tanda pertama adanya tekanan emosional. Orangtua dapat membantu dengan langkah sederhana, seperti: Mengembalikan jadwal tidur dan makan yang teratur Mengajak anak bergerak dan beraktivitas di luar rumah Membatasi penggunaan layar, terutama sebelum tidur Menyediakan waktu berbicara tanpa menghakimi Mengabaikan perasaan anak dengan mengatakan “itu hanya fase” dapat membuat mereka merasa tidak dipahami.
Fokus pada ketahanan mental Kesehatan mental anak bukan hanya tentang diagnosis gangguan. Hal ini juga tentang membantu anak belajar menghadapi perubahan dan tekanan dengan lebih baik. Masa setelah liburan menjadi waktu penting bagi orangtua untuk lebih peka. Mendengarkan dengan empati sering kali lebih efektif daripada langsung memberi nasihat atau teguran. Dengan dukungan yang tepat, sebagian besar anak dapat kembali beradaptasi dengan baik.
.png)
Tidak ada komentar: