Pada masa awal kelahiran, sebagian ibu merasa khawatir apakah bayinya sudah mendapatkan ASI yang cukup atau belum. Produksi ASI yang belum lancar, bayi yang sering tidur, hingga berat badan yang turun terkadang memicu kecemasan. Dokter Spesialis Anak dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, Sp.A, MARS, atau yang akrab disapa dr. Tiwi ini mengatakan bahwa untuk menilai proses menyusui sudah berjalan efektif, salah satu indikator yang paling mudah dipantau adalah berat badan bayi. “Bagaimana tahu bahwa menyusuinya efektif? Satu, berat badan tidak boleh turun terlalu jauh,” kata dr. Tiwi dalam acara Newborn & Breastfeeding Class Blackmores Lacta Well di Jakarta Pusat, Sabtu (24/1/2026).
Perhatikan penurunan berat badan bayi Dr. Tiwi menjelaskan, penurunan berat badan pada hari pertama merupakan kondisi yang umum terjadi pada bayi baru lahir.
Namun, penurunan tersebut tetap memiliki batas aman yang perlu dipantau agar orangtua tidak salah menilai efektivitas menyusui.
Untuk mengetahuinya, berat badan bayi perlu dimonitor sejak hari pertama kelahiran. Penurunan berat badan pada 24 jam pertama tidak boleh melebihi 5 persen dari berat lahir. “Berat badan dimonitor. Hari pertama tidak boleh turun lebih dari 5 persen dari berat lahir,” ujarnya.
Ia kemudian menjelaskan cara menghitung batas penurunan berat badan tersebut secara sederhana. Jika bayi lahir dengan berat 3 kilogram, maka penurunan maksimal yang masih tergolong aman adalah sekitar 150 gram. “Hitungnya caranya kan 3 kilo. Kalau 10 persen kan 300, 5 persen berarti 150. Jadi dia boleh turun, tapi enggak boleh lebih dari 150 di 24 jam pertama,” jelasnya. Menurut dr. Tiwi, apabila ASI memang belum keluar banyak, tetapi bayi terus menyusu dengan baik, penurunan berat badan biasanya masih berada dalam rentang wajar dan tidak melebihi batas tersebut. “Kalau ASI-nya belum ada, tapi bayinya mengisap terus, coba besoknya itu enggak sampai 5 persen. Paling turun 2 persen, 3 persen,” katanya.
Berat badan bayi harus kembali dalam dua minggu Selain memantau penurunan berat badan di hari pertama, dr. Tiwi menekankan pentingnya memperhatikan kenaikan berat badan dalam jangka waktu berikutnya. Jika ada penurunan berat badan setelah lahir, menurut dr.Tiwi memasuki usia dua minggu, seharusnya berat badan bayi sudah kembali ke berat lahir.
Apabila berat badan bayi belum kembali ke berat lahir setelah dua minggu, kondisi tersebut perlu dievaluasi lebih lanjut.
“Walaupun dia belum kembali, kita lihat. Mungkin dia posisi menyusui dan pelekatannya tidak benar,” ujarnya.
Dalam kondisi seperti ini, dr. Tiwi menyarankan kombinasi pendekatan, mulai dari memperbaiki posisi dan pelekatan menyusui hingga membantu asupan dengan ASI perah.
Bayi terlalu lama tidur bisa mengganggu menyusui Di samping itu, dr. Tiwi juga mengingatkan bahwa bayi yang terlalu lama tidur, terutama bila dipisahkan dari ibu, bisa memengaruhi efektivitas menyusui dan produksi ASI. Ia mencontohkan kondisi di rumah sakit ketika bayi dikembalikan ke ruang bayi karena ibu sangat kelelahan. Menurutnya, jeda menyusui yang terlalu lama dapat mengganggu refleks mengisap bayi. “Sudah tiga jam enggak menyusui. Biasanya itu yang membuat produksi ASI jadi turun. Karena bayinya akan banyak tidur, refleks mengisapnya ke ibu jadi berkurang,” tuturnya.
Kondisi tersebut, lanjutnya, kerap berujung pada pemberian susu formula, yang bisa menurunkan produksi ASI.
Dekatkan bayi ke dada ibu Untuk mendukung keberhasilan menyusui, dr. Tiwi menyarankan agar bayi lebih sering berada di dada ibu, terutama pada masa awal kelahiran.
Ia juga menekankan, bila ibu masih kesulitan menyusui karena posisi atau pelekatan belum tepat, bayi sebaiknya tidak langsung diletakkan di kereta bayi. “Makin lama di dada ibu, makin gampang bayinya menemukan puting. Jangan ditaruh di kereta bayi, taruh di dadanya ibu saja,” saran dr. Tiwi.
Tidak ada komentar: