Pernahkah Anda merasa sudah makan dalam porsi besar, namun tak lama kemudian tubuh justru terasa lemas, sulit fokus, dan mengantuk? Siti Dharma Azizah, S.ST, MKM, RD, Kepala Instalasi Gizi RSAB Harapan Kita, menjelaskan bahwa kondisi ini biasanya terjadi karena kita hanya sekadar kenyang secara fisik, namun "lapar" secara nutrisi. "Masalah utama kita saat ini adalah makan asal kenyang. Yang dikejar hanya karbohidrat dan lemak, tapi abai terhadap protein dan serat," ujar Siti dalam talk show kesehatan bersama Kemenkes RI, dikutip Kompas.com, Senin (26/1/2026).
Jebakan "asal kenyang" dan efeknya Menurut Siti, pola makan yang didominasi karbohidrat sederhana, seperti mengonsumsi mi instan tanpa tambahan protein atau sayur, memang memberikan energi cepat, namun juga cepat hilang.
Hal inilah yang menyebabkan fluktuasi energi yang membuat badan terasa lemas tak lama setelah makan.
Dalam jangka panjang, kebiasaan makan asal kenyang tanpa gizi seimbang ini memicu masalah serius:
Anemia gizi: tubuh kekurangan zat besi karena kurangnya asupan protein hewani. Metabolisme lambat: tanpa protein yang cukup, massa otot bisa mengecil dan metabolisme tubuh menurun. Penyakit tidak menular: risiko obesitas, hipertensi, hingga diabetes meningkat drastis.
Solusi praktis: strategi "Isi Piringku" Untuk mengatasi lemas berkepanjangan, Siti menyarankan masyarakat meninggalkan konsep lama dan beralih ke panduan Isi Piringku. Cara pengaturannya cukup sederhana untuk diterapkan setiap hari: Bagi piring menjadi dua: setengah piring harus berisi sayur dan buah (porsi sayur lebih dominan). Serat dari sayuran inilah yang menjaga rasa kenyang bertahan lebih lama. Setengah sisanya: diisi dengan karbohidrat dan lauk-pauk (protein) dengan porsi yang seimbang. Utamakan pangan lokal: tidak perlu mencari bahan makanan mahal atau impor. Ikan kembung, telur, tahu, dan tempe adalah sumber protein berkualitas tinggi yang mudah didapat dan murah.
Kebiasaan minum teh yang menghambat Salah satu fakta menarik yang diungkap Siti adalah pengaruh minuman terhadap penyerapan gizi. Kebiasaan minum teh setelah makan berat ternyata menjadi salah satu dalang badan lemas. "Teh mengandung senyawa yang menghambat penyerapan zat besi. Jika zat besi dari makanan tidak terserap, tubuh akan kekurangan oksigen dalam darah, dan itulah yang membuat kita cepat lelah," jelasnya. Ia merekomendasikan air putih atau jus jeruk yang kaya vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi lebih optimal.
Investasi untuk masa tua Mengatur porsi makan bukan sekadar soal diet atau menjaga penampilan, melainkan investasi untuk menjadi lansia yang bugar.
Dengan pola gizi seimbang sejak dini, fungsi hormon dan kinerja organ tubuh akan terjaga dengan baik. "Kita semua ingin menjadi lansia yang mandiri dan tetap aktif. Semua itu dimulai dari komitmen kita untuk memperhatikan apa yang ada di atas piring hari ini," kata Siti.
Tidak ada komentar: