Kebiasaan minum kopi di pagi hari ternyata tidak hanya berfungsi untuk mengusir rasa kantuk dan memberikan suntikan energi. Sebuah penelitian terbaru berskala besar menunjukkan bahwa konsumsi kopi secara rutin dapat memberikan perlindungan signifikan terhadap penyakit liver (hati) yang serius. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Clinical Gastroenterology and Hepatology mengungkapkan bahwa orang yang rutin minum kopi memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit liver kronis dibandingkan mereka yang sama sekali tidak mengonsumsinya. Menariknya, efek perlindungan ini tetap ditemukan baik pada mereka yang meminum kopi biasa (berkafein) maupun kopi dekfein (decaf), bahkan termasuk bagi mereka yang menambahkan gula atau pemanis buatan.
"Apa yang paling mengejutkan saya adalah betapa konsistennya sinyal (manfaat) yang ditunjukkan," ujar pimpinan penulis studi, Hyunseok Kim, MD, PhD, MPH, yang merupakan seorang dokter spesialis hepatologi transplantasi dan asisten profesor kedokteran di Cedars-Sinai Medical Center, Los Angeles. Ia menambahkan mengenai pesan praktis dari temuan ini.
"Pesan praktisnya adalah, bagi orang-orang yang memang sudah menikmati kopi dan dapat mentoleransinya dengan baik, konsumsi kopi dalam jumlah sedang dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat untuk liver," kata Dr. Kim, dikutip dari Everyday Health, Kamis (2/6/2026).
Melibatkan 350.000 partisipan selama 13 tahun Penelitian ini memiliki metodologi yang sangat kuat. Para peneliti mengumpulkan dan menganalisis data dari 354.957 partisipan yang terdaftar di UK Biobank antara tahun 2006 hingga 2010. Saat memulai penelitian, seluruh partisipan berada di rentang usia 40 hingga 69 tahun dan dipastikan tidak memiliki riwayat sirosis (pembentukan jaringan parut pada liver) atau kanker hati. Selama periode pengamatan yang berlangsung sekitar 13 tahun, para peserta melaporkan jumlah konsumsi kopi harian mereka, jenis kopi yang diminum (biasa atau decaf), serta apakah mereka menambahkan pemanis. Peneliti kemudian melacak kasus baru sirosis, kanker hati, dan kematian akibat penyakit liver melalui rekam medis yang terintegrasi. Kelebihan studi ini dibanding penelitian terdahulu adalah keterlibatan teknologi medis canggih. Peneliti menyertakan hasil pemindaian MRI liver pada hampir 30.000 partisipan serta analisis protein darah pada 44.000 partisipan lainnya. "Hal ini memungkinkan kami untuk melihat tidak hanya apakah kopi dikaitkan dengan hasil klinis yang lebih baik, tetapi juga melihat potensi jalur biologis di balik asosiasi tersebut," jelas Dr. Kim.
Data penurunan risiko penyakit liver Hasil analisis data menunjukkan angka penurunan risiko yang sangat signifikan pada pencinta kopi dibandingkan dengan kelompok yang tidak minum kopi. Berdasarkan data studi, mereka yang mengonsumsi 5 cangkir kopi atau lebih per hari mengalami:
Penurunan risiko sirosis sebesar 32 persen. Penurunan risiko kanker hati sebesar 47 persen. Penurunan risiko kematian akibat penyakit liver sebesar 42 persen. Manfaat ini diketahui bersifat dose-related atau berkaitan dengan dosis. Artinya, semakin tinggi konsumsi kopi (dalam batas wajar), risiko penyakit hati tampak semakin menurun.
Kendati demikian, kelompok partisipan yang meminum 1-2 cangkir dan 3-4 cangkir kopi per hari juga tetap mengalami penurunan risiko penyakit liver yang signifikan. Melalui hasil pemindaian MRI, ditemukan bukti spesifik bahwa orang yang minum lebih banyak kopi memiliki kadar lemak liver dan zat besi liver yang lebih rendah. Mereka juga memiliki kemungkinan lebih kecil untuk mengalami peningkatan cT1, sebuah penanda MRI yang mendeteksi adanya inflamasi atau peradangan pada liver.
Mengapa kopi bisa melindungi liver? Fakta bahwa manfaat ini juga dirasakan oleh peminum kopi decaf mengindikasikan bahwa kafein bukanlah satu-satunya aktor utama di balik khasiat ini.
Pichamol Jirapinyo, MD, MPH, seorang asisten profesor kedokteran di Harvard Medical School dan pakar endoskopi lanjut di Mass General Brigham, memberikan pandangannya.
Dr. Jirapinyo, yang tidak terlibat dalam penelitian ini melainkan bertindak sebagai juru bicara American Gastroenterological Association, menyoroti kandungan antioksidan dan polifenol yang melimpah pada kopi. Menurut Dr. Jirapinyo, senyawa-senyawa bermanfaat ini mampu mengurangi stres oksidatif dan peradangan kronis, di mana keduanya merupakan pemicu utama kerusakan liver. Ia menambahkan bahwa studi eksperimental menunjukkan senyawa tersebut dapat mengurangi akumulasi lemak di liver, menekan aktivasi sel pembentuk jaringan parut, dan membatasi perkembangan fibrosis.
"Secara keseluruhan, saya pikir ini adalah salah satu studi observasional terkuat yang pernah kita lihat mengenai kopi dan kesehatan liver," kata Jirapinyo. "Apa yang membuatnya menonjol bukan hanya ukurannya, tetapi juga integrasi hasil klinis, seperti hasil MRI dan pemeriksaan darah." Meski demikian, Dr. Kim mengingatkan adanya keterbatasan sifat studi. Karena bersifat observasional, studi ini hanya mampu membuktikan adanya hubungan atau korelasi antara minum kopi dan penurunan risiko penyakit hati, tetapi belum bisa membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Selain itu, mayoritas populasi dalam UK Biobank adalah kulit putih, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk melihat apakah hasil ini berlaku sama luasnya pada ras atau etnis lain.
Haruskah mulai minum kopi demi kesehatan liver? Meski hasilnya sangat menjanjikan, Dr. Kim menegaskan bahwa seseorang tidak perlu memaksa diri mulai minum kopi hanya demi alasan kesehatan liver. Riset ini lebih berfungsi sebagai lampu hijau dan penenang bagi mereka yang memang sudah terbiasa mengonsumsi kopi secara aman. "Kopi harus menjadi pelengkap, bukan pengganti hal-hal mendasar seperti menghindari alkohol berlebihan, menjaga berat badan sehat, berolahraga, serta mengelola diabetes, kolesterol, dan tekanan darah," tegas Dr. Kim.
Bagi orang dewasa yang tidak memiliki masalah sensitivitas, Dr. Jirapinyo menilai bahwa konsumsi 1 hingga 4 cangkir kopi sehari adalah batasan yang masuk akal dan aman berdasarkan bukti ilmiah saat ini.
"Lebih banyak belum tentu lebih baik," cetus Jirapinyo. "Studi ini mengamati sebuah asosiasi, bukan bukti sebab-akibat, dan studi ini tidak dirancang untuk menentukan dosis 'optimal' dari kopi." Ia juga mengingatkan bahwa konsumsi kopi berlebihan dapat memicu efek samping negatif seperti insomnia, kecemasan, jantung berdebar, hingga sakit perut. Bagi mereka yang sensitif terhadap kafein, opsi kopi decaf bisa menjadi pilihan yang jauh lebih aman. "Jika Anda sudah menikmati kopi, tidak ada alasan untuk merasa bersalah atas satu atau dua cangkir kopi Anda di pagi hari. Tetapi saya tidak akan mendorong seseorang yang membenci kopi atau tidak bisa mentoleransi kafein untuk mulai meminumnya semata-mata demi pencegahan penyakit liver," ujarnya.
Terakhir, meskipun manfaat kopi tetap terlihat pada orang yang menambahkan gula atau pemanis buatan, para peneliti mencatat adanya peningkatan "moderat" pada penanda MRI untuk inflamasi liver akibat bahan tambahan tersebut. "Secara umum saya lebih menyarankan kopi tanpa pemanis atau meminimalkan penggunaan gula, terutama bagi orang dengan obesitas, diabetes, atau faktor risiko metabolik," pungkas Dr. Kim.
![]() |
| Handuk Mutia Besar |

Tidak ada komentar: