Intensitas cuaca ekstrem akibat perubahan iklim mendorong sebagian warga China untuk membekali diri dengan simulasi bencana secara mandiri. Pekan lalu, Huang Zhen (34) menutup kafe miliknya selama sehari untuk mengikuti latihan menghadapi topan, peristiwa cuaca ekstrem yang semakin sering melanda China. Huang adalah salah satu dari selusin orang yang menghadiri sesi di Pusat Pelatihan Simulasi Bencana Lvxing di Hangzhou, Tiongkok timur. Dengan biaya 1.599 yuan (sekitar Rp 4,2 juta) per hari, pelatihan ini menawarkan pengalaman realistis tentang bagaimana rasanya terjebak dalam topan atau banjir bandang. Selama latihan, peserta akan dibekali pakaian selam, helm, dan didampingi instruktur keselamatan.
Hadirkan suasana yang mirip saat badai Pusat pelatihan itu mengklaim, jadi yang pertama di dunia yang menyediakan pelatihan menghadapi topan, dengan pengalaman simulasi yang menghasilkan kecepatan angin hingga 165 km/jam bersamaan dengan hujan deras. Di bagian terpisah, 900 ton metrik air dilepaskan untuk meniru banjir pegunungan, sementara di bagian lain, peserta harus melalui 400 ton air di lingkungan perkotaan tiruan. "Selama dua tahun terakhir, cuaca menjadi semakin sulit diprediksi," kata Huang, dikutip dari Reuters, Senin (20/7/2026).
"Kesempatan seperti ini memberi kita gambaran yang lebih baik tentang seperti apa sebenarnya berbagai tingkat bencana dan membantu meningkatkan kesadaran kita tentang kesiapsiagaan bencana," sambungnya. Para ilmuwan mengatakan, perubahan iklim semakin membuat China rentan terhadap peristiwa cuaca yang merusak. Tahun ini menjadi perhatian khusus karena munculnya pola cuaca El Nino yang dapat meningkatkan suhu dan memicu topan lebih intens.
6 topan selama Juli Pusat Iklim Nasional China mengatakan, pihaknya memperkirakan hingga enam topan akan terbentuk di Pasifik Barat Laut dan Laut China Selatan pada Juli, lebih banyak dari rata-rata 3,8 topan. Salah satunya adalah Topan Bavi yang membawa banjir parah dan memaksa jutaan warga China mengungsi. "Topan Bavi melanda beberapa hari yang lalu, membuat orang menyadari bahwa bahaya topan jauh lebih mengancam daripada yang kita kira," ujar Wu Zijian, seorang pekerja lepas berusia 44 tahun yang datang dari Shanghai untuk hadir.
Lebih dari 160.000 orang telah mengikuti sesi di pusat tersebut sejak dibuka pada Mei 2025. Instruktur utama pusat tersebut, Wang Kuanghan mengatakan, ada rencana untuk membuka lima pusat lagi di China dalam tiga tahun ke depan. Pusat-pusat ini akan mencakup simulasi bencana alam lainnya, seperti kebakaran dan gempa bumi.
"Menurut saya, keterampilan bertahan hidup terpenting selama topan adalah jangan keluar rumah," katanya. "Tetaplah di dalam rumah dan jaga keselamatan diri Anda di rumah," pungkasnya.
![]() |
| Bedcover Fata Polos 120 Taupe |
| Bedcover Kintakun Flat Morence 180 X 200 |

Tidak ada komentar: