Seberapa Sering Sikat Gigi Diganti? Ini Kata Dokter

 


Sikat gigi menjadi benda yang digunakan setiap hari untuk menjaga kebersihan mulut. Namun, alat yang sama juga dapat menyimpan bakteri, virus, dan jamur setelah digunakan, terutama ketika seseorang sedang sakit. Lalu, seberapa sering harus mengganti sikat gigi? Apakah sikat gigi perlu langsung dibuang setelah sembuh dari penyakit? Dikutip dari USA Today, Selasa (21/7/2026), American Dental Association merekomendasikan penggantian sikat gigi setiap tiga sampai empat bulan. Namun, waktu tersebut bisa lebih cepat jika bulu sikat sudah terlihat rusak. Dokter anak Jason Nagata dari UCSF Benioff Children's Hospital mengatakan, bulu sikat yang sudah melebar, melengkung, atau melunak menjadi tanda bahwa sikat gigi perlu diganti.

Kondisi tersebut bukan hanya membuat sikat gigi terlihat kurang baik, tetapi juga dapat memengaruhi efektivitasnya saat membersihkan gigi. Bulu sikat yang sudah berubah bentuk tidak lagi bekerja optimal untuk menjangkau permukaan gigi dan area di sekitar gusi.

Dengan kata lain, tidak perlu menunggu sikat gigi terlihat sangat kotor untuk menggantinya. Perubahan pada bulu sikat bisa menjadi penanda sederhana yang perlu diperhatikan. Setelah sakit, tak selalu harus langsung membuang sikat gigi Banyak orang khawatir sikat gigi yang digunakan saat sakit dapat menyebabkan infeksi kembali.  Padahal, menurut Nagata, infeksi ulang dari sikat gigi sendiri tergolong jarang terjadi pada kebanyakan orang sehat. “Sistem kekebalan tubuh biasanya sudah mengembangkan antibodi dan pertahanan lain yang dapat mengenali serta menghilangkan virus atau bakteri yang sama jika seseorang kembali terpapar dalam waktu dekat setelah sembuh,” ujar Nagata.

Meski begitu, dokter gigi dan prostodontis Briar Voy mengingatkan, sikat gigi yang disimpan dalam kondisi lembab atau wadah tertutup cenderung membuat bakteri bertahan lebih lama. Perhatian lebih perlu diberikan setelah mengalami infeksi tertentu. Nagata mengatakan, pada infeksi bakteri seperti radang tenggorokan akibat streptokokus, bakteri dapat bertahan di sikat gigi selama beberapa hari.  Oleh karena itu, mengganti sikat gigi setelah menyelesaikan pengobatan bisa menjadi langkah pencegahan yang masuk akal.

Simpan sikat gigi dengan benar agar tidak menjadi sumber kuman Selain rutin mengganti sikat gigi, cara menyimpannya juga penting. Voy menyarankan agar sikat gigi dibilas menggunakan air mengalir setelah dipakai, kemudian disimpan dalam posisi tegak agar dapat mengering sempurna. Sikat gigi juga sebaiknya tidak disimpan terlalu berdekatan dengan milik anggota keluarga lain.  Menurut Voy, risiko kontaminasi silang dari sikat gigi yang diletakkan terlalu dekat justru lebih mengkhawatirkan dibandingkan risiko infeksi ulang pada diri sendiri.

“Yang lebih saya khawatirkan adalah menularkan kuman kepada anggota keluarga lain dibandingkan mengalami infeksi ulang, akibat sikat gigi yang disimpan terlalu berdekatan,” kata Voy. Ia juga menyarankan untuk tidak langsung menggunakan penutup atau wadah sikat gigi ketika bulunya masih basah. Kondisi lembab dapat membuat kuman bertahan lebih lama.

SUMBERhttps://lifestyle.kompas.com/read/2026/07/22/073500920/seberapa-sering-sikat-gigi-diganti-ini-kata-dokter

Karpet Selimut (Karmut) Emilia Alina
Seberapa Sering Sikat Gigi Diganti? Ini Kata Dokter Seberapa Sering Sikat Gigi Diganti? Ini Kata Dokter Reviewed by wongpasar grosir on 08.40 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.