Da Hong Pao dikenal sebagai teh termahal di dunia dengan nilai yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp 16 miliar per kilogram. Dilansir NDTV, Rabu (22/7/2026), Da Hong Pao, yang berarti "jubah merah besar" dalam bahasa Mandarin, merupakan teh oolong terkenal yang berasal dari Pegunungan Wuyi di Provinsi Fujian, China. Kawasan pegunungan berbatu itu telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO dan dikenal sebagai penghasil teh berkualitas tinggi.
Berbeda dengan teh hijau maupun teh hitam, teh oolong berada di antara keduanya karena mengalami proses oksidasi sebagian. Da Hong Pao memiliki aroma bunga yang kerap disamakan dengan anggrek segar, berpadu dengan cita rasa panggang, buah, sedikit berasap, serta meninggalkan sensasi manis alami setelah diminum.
Keistimewaan Da Hong Pao berasal dari enam pohon induk yang tumbuh di tebing Pegunungan Wuyi. Pohon-pohon berusia ratusan tahun itu menghasilkan daun teh dalam jumlah yang sangat terbatas sehingga nilainya melonjak sangat tinggi. Harga Da Hong Pao asli diperkirakan bernilai sekitar Rp 16 miliar per kilogram. Dalam salah satu lelang teh paling terkenal, sebanyak 20 gram daun teh Da Hong Pao asli pernah terjual seharga 208.000 yuan (sekitar Rp 550 juta). BBC juga melaporkan harga teh asli tersebut mencapai lebih dari 1.400 dollar AS (sekitar Rp 25 juta) per gram, sehingga nilainya lebih dari 30 kali lipat lebih mahal dibandingkan emas berdasarkan beratnya. Bahkan, satu teko teh yang diseduh dari daun asli Da Hong Pao dapat bernilai lebih dari 10.000 dollar AS (sekitar Rp 179 juta). Dilarang dipanen sejak 2006
Pemerintah China pada 2006 secara permanen melarang pemanenan komersial daun dari enam pohon induk Da Hong Pao. Kebijakan itu diambil untuk memastikan pohon-pohon bersejarah tersebut tetap terjaga bagi generasi mendatang. Keenam pohon tersebut kini diperlakukan sebagai bagian dari warisan budaya China sehingga tidak seorang pun diizinkan memanen daunnya lagi. Nilai sejarah dan budayanya juga membuat pemerintah China mengasuransikan keenam pohon tersebut senilai 100 juta yuan (sekitar Rp 265 miliar). Sementara itu, hasil panen terakhir dari pohon induk Da Hong Pao kini disimpan di Museum Istana (Palace Museum) di Beijing.
Meski demikian, Da Hong Pao masih dapat ditemukan di pasaran. Produk yang dijual saat ini berasal dari keturunan hasil perbanyakanpohon induk atau merupakan campuran teh oolong batu (rock oolong) premium dari Pegunungan Wuyi yang dibuat untuk mendekati cita rasa aslinya. Berawal dari sebuah legenda Popularitas Da Hong Pao juga tidak lepas dari legenda yang menyertainya. Menurut cerita rakyat China, seorang cendekiawan yang sedang menuju Beijing untuk mengikuti ujian kekaisaran jatuh sakit saat melintasi Pegunungan Wuyi. Seorang biksu kemudian menyeduhkan teh dari daun yang tumbuh di tebing pegunungan tersebut hingga sang cendekiawan pulih. Setelah berhasil menjadi juara ujian kekaisaran, ia menggunakan teh yang sama untuk menyembuhkan kaisar yang sedang sakit.
Sebagai bentuk penghargaan, kaisar menghadiahkan jubah merah kebesaran kepada sang cendekiawan. Untuk menghormati pohon teh yang diyakini telah menyelamatkan mereka, jubah tersebut kemudian disampirkan di pohon-pohon teh itu. Dari kisah itulah muncul nama Da Hong Pao atau "Jubah Merah Besar".
Secara tradisional, Da Hong Pao diseduh menggunakan teko tanah liat kecil dengan air bersuhu sekitar 95-100 derajat Celsius. Berbeda dengan teh celup yang umumnya hanya sekali seduh, daun Da Hong Pao dapat diseduh berulang kali, bahkan banyak penikmat teh meyakini seduhan ketiga dan keempat justru menghasilkan cita rasa terbaik.
SELIMUT VITO POLOS 160 X 200
Tidak ada komentar: