Fenomena bediding atau suhu dingin saat musim kemarau masih menyelimuti berbagai wilayah di Jawa Tengah sejak Juni 2026. Memasuki Juli 2026, udara pada malam hingga pagi hari masih terasa sangat dingin, bahkan embun es kembali muncul di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Berdasarkan informasi yang dibagikan akun X @Jateng_Twit, suhu udara di Dieng mencapai minus 7 derajat Celsius pada Kamis (9/7/2026). Kondisi tersebut memicu kembali munculnya embun es yang kerap terlihat saat musim kemarau.
Udara dingin tidak hanya dirasakan warga di kawasan pegunungan. Sejumlah warganet juga mengaku merasakan penurunan suhu di berbagai daerah lain, seperti Solo, Semarang, Purwokerto, hingga Sragen.
Salah satu unggahan berasal dari akun @cla*** yang memperlihatkan suhu udara di Sragen mencapai 20 derajat Celsius pada Kamis pagi. "pagi tumben disini dingin banget, semoga hari kamis kalian menyenangkan yaa," tulis pengunggah. Lalu, apa yang membuat suhu dingin masih bertahan di Jawa Tengah sejak Juni 2026?
Puncak Musim Kemarau Jadi Pemicu Analis Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Zauyik, menjelaskan suhu udara yang terasa lebih dingin dibandingkan beberapa bulan sebelumnya berkaitan dengan datangnya puncak musim kemarau. Menurut dia, sebagian besar wilayah Jawa Tengah diperkirakan memasuki puncak musim kemarau pada Juli hingga Agustus 2026. Kondisi tersebut menyebabkan udara terasa dingin pada malam hingga pagi hari, sementara siang hari tetap berlangsung panas.
Penyebab Bediding Masih Melanda Jawa Tengah Zauyik menjelaskan, ada beberapa faktor yang memicu suhu udara tetap rendah selama musim kemarau. Faktor pertama adalah menguatnya Monsun Australia. Aliran angin yang berasal dari Australia membawa massa udara dingin dan kering karena negara tersebut sedang mengalami musim dingin. Selain itu, langit yang cenderung cerah tanpa banyak awan pada malam hari membuat panas dari permukaan Bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer.
"Sehingga suhu udara turun secara drastis pada dini hari," ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (9/7/2026). Kondisi musim kemarau juga menyebabkan tutupan awan sangat minim. Pada siang hari, permukaan Bumi menyerap panas matahari secara maksimal.
Namun, ketika malam tiba, tidak adanya awan yang berfungsi seperti selimut membuat panas yang tersimpan langsung dipancarkan kembali ke angkasa melalui proses radiasi balik gelombang panjang. "Akibatnya, suhu di permukaan Bumi merosot sangat tajam dan cepat, mencapai titik terdinginnya pada dini hari," pungkas Zauyik.
Tidak ada komentar: