Anak Cepat Tinggi Belum Tentu Sehat, Dokter Ingatkan Risiko Pubertas Dini

 


Memiliki anak dengan postur tubuh yang menjulang di atas rata-rata biasanya menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga. Stigma sosial yang kuat membentuk pandangan bahwa tubuh tinggi adalah modal utama untuk meraih kesuksesan, sehingga pertumbuhan fisik yang pesat selalu dianggap sebagai sebuah keuntungan besar. Namun, ambisi dan tuntutan publik untuk mencapai standar fisik ideal tersebut justru membawa rentetan dampak buruk.

Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp. A, Subsp. End., FAAP, FRCPI (Hon.), Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi di Rumah Sakit Pondok Indah memperingatkan, obsesi ini tidak hanya membahayakan kesehatan medis anak, tetapi juga merusak mental mereka di lingkungan pergaulan. "Jadi, kalau ada anaknya itu cepat tinggi tiba-tiba, apalagi sebelum fase pubertas, pastikan tidak pubertas dini," sebut dr. Aman dalam bincang virtual, Rabu (22/7/2026).

Meluruskan obsesi standar tinggi badan anak Bukan sekadar bonus keturunan Kebanyakan masyarakat berasumsi bahwa tubuh yang lekas meninggi merupakan turunan genetik semata.

Padahal, ketika postur anak melesat melewati kurva usianya secara tidak wajar, kondisi ini menuntut pemeriksaan mendalam, terutama jika orangtuanya tidak memiliki riwayat perawakan tinggi. "Jadi kalau dia tall stature, ada sedikitlah yang namanya constitutional tall, yang ini kayak bonuslah. Orangtuanya tidak tinggi, dia tinggi, jarang sekali kejadian," jelas dr. Aman. Pertumbuhan fisik yang sehat seharusnya berjalan perlahan mengikuti jalur grafik bawaannya. Lonjakan ke atas secara tajam justru merupakan sinyal adanya masalah pada kelenjar endokrin. "Rata-rata kalau tall stature ini patologik jadi penyakit. Kalau kejadian dia naik ke atas titik kurvanya, hati-hati ini," terang dr. Aman.

Bahaya tumor dan pubertas dini Peningkatan perawakan tubuh yang terlampau cepat, bisa berhubungan erat dengan risiko komplikasi serius yang mengancam masa depan sang buah hati. Salah satu kondisi yang harus diwaspadai adalah kematangan seksual yang datang bertahun-tahun lebih awal dari jadwal seharusnya. "Karena kalau dia masuk pada fase pubertas dini, penutupan tulangnya akan lebih cepat kejadiannya dini, sangat mungkin itu (penyebabnya) tumor dan lain-lain," papar dr. Aman.

Risiko medis ini tidak hanya mengintai anak kecil, melainkan bisa berlanjut hingga fase sekolah menengah.

Jika ukuran badannya masih terus memanjang tanpa henti meski masa pubertasnya telah lewat, intervensi dokter sangat dibutuhkan.

"Nah kalau misalnya setelah fase pubertas juga dia masih tambah tinggi, itu juga harus kita cari tahu kenapa. Bisa jadi masalah genetik tertentu atau ada tumor di otak," tutur dr. Aman. Keputusasaan dan mitos olahraga Obsesi untuk memenuhi standar postur ideal ini tidak hanya menutupi gejala penyakit pada anak yang tumbuh kelewat cepat, tetapi juga menyesatkan keluarga yang anaknya berperawakan mungil. Rasa cemas mendorong orangtua memercayai berbagai hoaks tentang rutinitas olahraga yang diklaim mampu memanjangkan tulang seketika. Aktivitas olahraga secara umum memang direkomendasikan karena bermanfaat untuk kesehatan secara keseluruhan.

Kendati demikian, tidak ada satupun jenis olahraga yang dirancang spesifik untuk memanipulasi ukuran tulang manusia dari luar. "Olahraga penting, olahraga apa saja kalau bisa memang satu jam setiap hari, tidak boleh lebih dari 16 jam seminggu. Olahraga itu penting untuk memacu hormonnya (pertumbuhan)," ucap dr. Aman.




SUMBERhttps://lifestyle.kompas.com/read/2026/07/26/210619420/anak-cepat-tinggi-belum-tentu-sehat-dokter-ingatkan-risiko-pubertas-dini?page=2



BEDCOVER AKIKO 160 FLAT GREENLAND

Anak Cepat Tinggi Belum Tentu Sehat, Dokter Ingatkan Risiko Pubertas Dini Anak Cepat Tinggi Belum Tentu Sehat, Dokter Ingatkan Risiko Pubertas Dini Reviewed by wongpasar grosir on 08.46 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.