Kebiasaan menggulir layar media sosial tanpa henti telah menjadi gaya hidup mayoritas generasi muda. Meski memberikan kemudahan dalam mengakses informasi dan memperluas jaringan pertemanan, durasi penggunaan gawai yang berlebihan membawa risiko tersembunyi bagi kesehatan. Banyak pengguna yang tidak menyadari bahwa tubuh dan pikiran mereka sebenarnya telah mencapai batas toleransi terhadap paparan informasi digital. "Dengan generasi Z yang 75 persen menggunakan media sosial, mereka itu sebetulnya stres dan juga cemas karena platform tersebut," kata Mental Health Counselor, Sasya Sava, saat ditemui di Lightplus Lightperience Picnic 2026, Urban Forest Cipete, Jakarta Selatan, Jumat (17/7/2026). Kondisi ini lambat laun memunculkan berbagai keluhan yang mengganggu produktivitas harian. Berikut ragam ciri yang menandakan bahwa kamu sudah terlalu lama "terjebak" di dunia maya.
Ragam tanda kamu mengalami kelelahan digital 1. Mendadak cemas karena terjebak putaran emosi Salah satu tanda utama seseorang mengalami kelelahan digital adalah munculnya perasaan cemas yang tiba-tiba. Hal ini dipicu oleh perubahan emosi yang sangat cepat saat melihat berbagai unggahan di media sosial, mulai dari kabar bahagia hingga berita duka dalam hitungan detik. Otak dipaksa memproses informasi yang fluktuatif secara terus-menerus. "Ketika kita misalnya menekan satu unggahan, ada teman nikah, senang. Tiba-tiba melihat berita yang tidak enak, hatinya langsung kesal atau sedih. Dari situ perubahannya akan ada perasaan cemas yang bisa jadi tiba-tiba datang," tutur Sasya.
2. Kedutan di area wajah dan mual Sasya melanjutkan, dampak fisik dari kelelahan digital dapat berupa kedutan pada area wajah dan rasa mual. "Secara fisik ada dampaknya. Semakin banyak menggunakan gawai, semakin kedutan. Jadinya melihat media sosial rasanya mual, marah, stres, atau membandingkan diri sendiri," ucap dia.
3. Rentang atensi memendek Rentang atensi seseorang juga semakin memendek akibat stimulasi informasi yang terlalu cepat, yang pada akhirnya memengaruhi cara otak mengambil keputusan hidup.
4. Kesehatan kulit wajah memburuk Kelelahan digital yang berujung pada stres ternyata memiliki korelasi langsung dengan kesehatan kulit wajah. Perasaan tertekan akibat terus membandingkan diri dengan standar kehidupan di media sosial memicu reaksi biologis di dalam tubuh yang merugikan pelindung kulit. "Stres itu, apa pun jenisnya, dia akan meningkatkan kortisol. Kortisol kan adalah sebuah hormon," jelas dr. Iksanuddin Qothi.
Peningkatan hormon stres ini secara otomatis membuat kelenjar minyak di bawah kulit bekerja lebih aktif.
Produksi minyak berlebih menyebabkan tersumbatnya pori-pori yang kemudian meradang, apalagi jika tidak dibarengi dengan pola hidup sehat. "Ketika kortisol itu meningkat, maka akan terjadi peningkatan sebum. Sebum itu ujung-ujungnya akan meningkatkan produksi dari jerawatnya," ungkap dr. Iksan. "Jadi, apa pun jenis stresnya, termasuk dalam bermain media sosial yang kebanyakan, itu bisa mengakibatkan masalah kulit," imbuh dia.
Pentingnya detoks media sosial Brand Ambassador Lightplus Xaviera Putri mengatakan, melihat unggahan di dunia maya yang sangat dikurasi sangat mudah membuat seseorang merasa tertinggal. Lingkungan digital yang terisolasi justru memperparah kondisi mental karena seseorang cenderung tenggelam dalam pikirannya sendiri tanpa validasi dan interaksi dari dunia nyata.
"Apa yang kita ingin tunjukkan, apa yang kita sudah capai, tapi kita tidak bisa benar-benar tahu atau merasakan apa yang orang lain lewati. Sangat gampang untuk tersesat di pikiran kita sendiri," tutur dia.
Melepaskan diri sejenak dari gawai menjadi kebutuhan mendesak untuk meredam kelelahan mental. Interaksi langsung dengan manusia lain terbukti ampuh mengurai benang kusut di kepala. Kelelahan yang dibiarkan menumpuk perlahan akan mengambil alih kesenangan dan kepuasan terhadap diri sendiri. "Sebagai generasi Z, menurut aku burnout (digital) itu tidak bisa dihindari. Mau kita coba hindari seberapa pun, tiba-tiba tanpa kita sadar burnout itu muncul," Xaviera berujar.
Buat batasan yang tegas agar tidak sepenuhnya bergantung pada validasi daring. Menjauhkan gawai dan "kembali" ke dunia nyata adalah langkah awal untuk menata ulang kewarasan. "Mau kita sudah sesukses apa pun atau mencapai banyak hal, perbandingan sama orang lain pasti akan selalu ada. Makanya kadang kita butuh 'mematikan' pikiran digital kita, dan keluar sejenak dari ruangan yang mengisolasikan diri," pungkas Xaviera.
|
|
Bedcover Bonita Rumbai Folix |

Tidak ada komentar: