Bencana kekeringan mulai meluas di Jawa Tengah pada musim kemarau 2026. Hingga pekan kedua Juli, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mencatat sedikitnya 14 kabupaten/kota telah terdampak krisis air bersih. Dari seluruh wilayah tersebut, Kabupaten Klaten menjadi daerah dengan kebutuhan bantuan air bersih terbesar. Sementara itu, Kabupaten Pemalang menyusul dengan peningkatan kebutuhan air yang signifikan dalam sepekan terakhir. Kepala Pelaksana BPBD Jawa Tengah Bergas Catursari Penanggungan mengatakan, hingga kini bantuan air bersih telah disalurkan ke 14 kabupaten/kota terdampak
"Kalau ditanya daerah mana paling parah, kami melihat yang disuplai paling besar yaitu Klaten. Disusul Banjarnegara, Pemalang, Cilacap, dan Purbalingga," ujar Bergas, dikutip dari Tribun Jateng, Senin (13/7/2026).
Klaten Jadi Episentrum Kekeringan Berdasarkan data BPBD Jawa Tengah, Kabupaten Klaten menerima distribusi air bersih sebanyak 1.045.000 liter atau setara 209 tangki untuk memenuhi kebutuhan 23.366 jiwa. Sementara itu, Kabupaten Pemalang menerima distribusi 402.000 liter air bersih melalui 83 tangki guna melayani kebutuhan 6.516 jiwa. Selain dua wilayah tersebut, bantuan air bersih juga diprioritaskan ke Kabupaten Banjarnegara sebanyak 171.000 liter, Grobogan 135.000 liter, serta Cilacap 125.000 liter. Secara keseluruhan, bantuan air bersih yang telah disalurkan BPBD Jawa Tengah hingga 8 Juli 2026 mencapai 2.251.000 liter melalui 453 tangki.
Wilayah Pegunungan Lebih Rentan Bergas menjelaskan, sebagian besar daerah yang mengalami kekeringan berada di kawasan pegunungan. Menurut dia, wilayah terdampak di Klaten berada di sekitar lereng Gunung Merapi. Kondisi serupa juga terjadi di Boyolali dan Banjarnegara. "Daerah tersebut selama ini kalau terjadi musim kemarau pasti kekurangan air bersih. Upaya yang dilakukan adalah melakukan pipanisasi, seperti di Klaten, tapi butuh pipanisasi sepanjang 30 kilometer sehingga perlu kajian mendalam. Sementara yang bisa dilakukan adalah langkah kedaruratan berupa distribusi air bersih," bebernya. Ia menambahkan, wilayah dataran tinggi cenderung lebih mudah kehilangan cadangan air karena secara geologis aliran air bergerak ke wilayah yang lebih rendah dan belum memiliki kawasan tangkapan air yang memadai.
BPBD Prediksi Wilayah Terdampak Bertambah BPBD Jawa Tengah memperkirakan jumlah daerah terdampak kekeringan masih berpotensi bertambah seiring puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi pada Agustus 2026. Saat ini, wilayah terdampak meliputi Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Purworejo, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Sragen, Grobogan, Jepara, Demak, Pemalang, dan Kota Semarang.
BPBD juga telah menyiapkan stok air bersih sebanyak 129 juta liter yang tersebar di 29 kabupaten/kota sebagai langkah antisipasi apabila kebutuhan air bersih terus meningkat selama musim kemarau.
Tidak ada komentar: