Ramai Tabel Desil 1-10 Berdasar Pengeluaran, Benarkah Masyarakat Sangat Miskin Rp 480.000 per Bulan? Ini Kata Kemensos
Lini masa media sosial belakangan ini diramaikan dengan beredarnya infografis bertajuk "Sistem Desil Terbaru 2026". Infografis tersebut memuat pengelompokan desil 1 hingga desil 10 yang dikaitkan dengan nominal pengeluaran per kapita per bulan, kondisi rumah, hingga status penerima bantuan sosial (bansos). Dalam infografis itu disebutkan bahwa masyarakat yang masuk desil 1 merupakan kelompok sangat miskin dengan pengeluaran kurang dari Rp 480.000 per bulan. Kelompok ini bersama desil 2 hingga desil 4 disebut sebagai prioritas penerima berbagai program bansos, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), dan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK).
Sementara itu, desil 10 digambarkan sebagai kelompok sangat kaya dengan pengeluaran lebih dari Rp 12 juta per bulan sehingga tidak termasuk penerima bantuan sosial. Lantas, benarkah pengelompokan desil 1 hingga desil 10 ditentukan berdasarkan besaran pengeluaran per kapita per bulan?
Penjelasan Kemensos soal desil 1-10 Menanggapi informasi yang ramai dibagikan di media sosial, Kementerian Sosial (Kemensos) menegaskan bahwa infografis bertajuk "Sistem Desil Terbaru 2026" bukan merupakan informasi resmi dari pemerintah. Penjelasan tersebut disampaikan melalui akun Instagram resmi milik Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial, @pusdatinkesos pada Kamis (25/6/2026). "Belakangan ini beredar infografis 'Sistem Desil Terbaru 2026' yang mengaitkan desil dengan nominal pengeluaran, kondisi rumah, hingga status bantuan sosial. Faktanya, infografis tersebut bukan dibuat oleh Kementerian Sosial," tulis Kemensos. Kemensos menjelaskan bahwa berdasarkan Keputusan Menteri Sosial (Kepmensos) Nomor 22/HUK/2026, peringkat kesejahteraan dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) disusun dalam bentuk desil 1 hingga desil 10. Pengelompokan tersebut dibagi sebagai berikut: Desil 1 merupakan 10 persen kelompok kesejahteraan terbawah. Desil 2 adalah 10 persen kelompok di atas desil 1. Pengelompokan berlanjut hingga desil 10, yaitu 10 persen kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan tertinggi. Artinya, desil hanya menunjukkan posisi relatif suatu keluarga dibandingkan keluarga lain dalam basis data DTSEN, bukan berdasarkan batas nominal pengeluaran tertentu.
Kemensos pun mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial dengan selalu memeriksa sumber informasi sebelum membagikannya. "Penyebaran hoaks dapat dicegah dengan satu langkah sederhana, yaitu memastikan informasi berasal dari sumber yang resmi dan tepercaya," tulis Kemensos.
Tidak ada komentar: