Saat ini, stroke masih menjadi salah satu penyakit dengan beban kesehatan besar karena dapat menyebabkan kecacatan jangka panjang hingga kematian. Penyakit ini disebut menjadi penyebab kecacatan nomor dua di dunia dan berkontribusi terhadap 6,5 juta kematian. Bagi pasien dan keluarga, tantangan setelah serangan stroke tidak hanya berkaitan dengan kondisi medis, tetapi juga ketidakpastian dalam menjalani perawatan.
Ketidakpastian itu dapat meningkat ketika pasien atau keluarga memiliki pengetahuan terbatas tentang stroke, kurang mendapat dukungan perawatan, mengalami komunikasi yang buruk dengan tenaga kesehatan, serta belum siap merawat pasien saat kembali ke rumah. Perencanaan perawatan lanjutan dinilai penting Mahasiswa program doktoral Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Margareta Hesti Rahayu, Ns., M.Kep., meneliti intervensi Advance Care Planning (ACP) atau perencanaan perawatan lanjutan bagi pasien stroke.
Melalui penelitiannya, Margareta mengembangkan intervensi ACP sebagai upaya membantu pasien memperoleh perawatan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya. Ia menjelaskan, ACP tidak hanya memberi manfaat bagi pasien, tetapi juga keluarga yang terlibat dalam proses perawatan. “ACP mampu berkontribusi dalam menurunkan ketidakpastian, stres, kecemasan, dan depresi pada pasien; memperkuat keterlibatan pasien dalam pengambilan keputusan; menurunkan konflik keluarga; serta memperbaiki kualitas perawatan akhir kehidupan pasien,” ujar Margareta dalam ujian terbuka promosi doktor di kampus FK-KMK UGM, Selasa (9/6/2026), sebagaimana diberitakan laman UGM.
Penelitian melibatkan pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan Dalam disertasinya, Margareta menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif atau mixed methods research dengan desain exploratory sequential mixed method. Penelitian tersebut dilakukan dalam dua tahap untuk menggali kebutuhan perawatan lanjutan dan menguji implementasi program ACP stroke. Tahap pertama merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif untuk mengeksplorasi kebutuhan perencanaan perawatan lanjutan pada pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan. Tahap kedua dilakukan melalui implementasi program ACP stroke dengan memberikan intervensi ACP kepada pasien stroke dan melibatkan keluarga dalam prosesnya. Penelitian berlangsung di RSUP dr. Sardjito, RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono, dan Rumah Sakit Panti Rapih pada 2024-2025. Sebanyak 33 partisipan terlibat dalam penelitian tersebut, terdiri dari pasien stroke, keluarga, dan tenaga kesehatan.
Empat tema utama ditemukan dalam penelitian Margareta menjelaskan, hasil penelitian melalui wawancara dan focus group discussion (FGD) menghasilkan empat tema utama.
Tiga tema pertama menggambarkan pengalaman pasien stroke dan keluarga, yakni permasalahan pasien dengan stroke, kebutuhan informasi dan edukasi pasien serta keluarga, dan pentingnya dukungan emosional. Tema keempat berkaitan dengan kebutuhan perencanaan perawatan lanjutan pada pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan. Berdasarkan konsensus para ahli menggunakan metode Delphi, penelitian itu menghasilkan 48 butir pernyataan valid yang terbagi dalam 19 domain dan tiga kategori. Hasil tersebut kemudian digunakan sebagai dasar penyusunan modul ACP stroke bagi tenaga kesehatan, pasien, dan keluarga. Modul ACP stroke untuk tenaga kesehatan memuat konsep ACP, komunikasi dalam ACP, serta panduan pelaksanaan ACP pada pasien stroke. Sementara itu, modul ACP stroke bagi pasien dan keluarga berisi konsep ACP, informasi tentang penyakit stroke, perawatan stroke di rumah, diet bagi pasien stroke, latihan untuk pasien stroke, dan penggunaan obat-obatan.
“Keseluruhan topik di atas merupakan rangkuman dari masukan dan saran dari pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan,” kata Margareta. ACP bantu keluarga lebih siap merawat pasien Hasil penelitian tahap kedua menunjukkan, intervensi ACP dapat menurunkan ketidakpastian pasien terhadap penyakitnya. Intervensi tersebut juga meningkatkan pengetahuan keluarga dalam perawatan stroke, efikasi diri keluarga dalam pengambilan keputusan, dan kesiapan keluarga untuk melakukan perawatan di rumah. Menurut Margareta, ACP dapat membantu individu memperjelas keinginan dan prioritas perawatan saat menghadapi ketidakpastian pada masa depan.
Keterlibatan tenaga kesehatan dari berbagai disiplin ilmu juga memberi kesempatan bagi pasien dan keluarga untuk berdiskusi secara lebih interaktif dan komprehensif.
“Intervensi ini juga menjadi strategi dalam menurunkan ketidakpastian,” ujar Margareta. Ujian terbuka doktoral tersebut menjadi bagian dari perjalanan Margareta dalam meraih gelar doktor. Ia berhasil menyelesaikan studi doktoralnya dengan predikat cumlaude.
Tidak ada komentar: