Terik Matahari dan jauhnya jarak tidak menghentikan langkah puluhan biksu yang berjalan kaki menuju Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dengan jubah sederhana dan perlengkapan secukupnya, mereka bertolak dari Pulau Dewata Bali demi mengikuti puncak rangkaian Hari Raya Waisak 2026. Hal tersebut mereka lakukan sebagai perjalanan spiritual atau thudong dalam rangka "Indonesia Walk for Peace 2026". Tak ada kendaraan pengangkut ataupun barang bawaan berlebih. Mereka hanya berjalan, berpindah dari satu daerah ke daerah lain, melewati Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Yogyakarta sebelum akhirnya tiba di Kabupaten Magelang.
Ketua Umum Indonesia Walk for Peace 2026 Tosin mengatakan, jumlah biksu yang berjalan kaki dari Bali menuju Candi Borobudur mencapai 50 orang.
Ritual tersebut dimulai pada Sabtu (9/5/2025) dan dijadwalkan berakhir di Candi Borobudur pada Minggu (31/5/2026). Rombongan biksu dijadwalkan singgah di Kota Solo pada Sabtu (23/5/2026) sekitar pukul 15.00 WIB sebelum melanjutkan perjalanan pada Minggu (24/5/2026). "Total perjalanan itu kalau sampai Borobudur bisa sampai 666 kilometer. Belum jika ada kemacetan, atau penyambutan umat itu bisa bertambah," kata Tosin di Buleleng, dikutip dari Kompas.com, Sabtu (9/5/2026).
Rahasia Biksu Kuat Jalan Kaki dari Bali ke Candi Borobudur Di balik perjalanan ratusan kilometer itu, ada kehidupan disiplin yang dijalani para biksu. Ketua Pusat Informasi Indonesia Walk for Peace, Sanjaya Kanginnadhi, mengatakan bahwa para biksu yang mengikuti thudong terbiasa hidup di tempat sunyi, seperti hutan. Kehidupan sederhana itulah yang membentuk ketahanan fisik dan mental mereka selama menjalani perjalanan panjang menuju Candi Borobudur. Selain tinggal di tempat sederhana, para biksu juga terbiasa menjalani hidup minimalis dengan makanan seadanya.
“Mereka melatih kedisiplinan, mengikis kekotoran batin, dan hidup minimalis,” ujar Sanjaya saat dihubungi Kompas.com, Jumat (22/5/2026). "43 Thailand, 4 Malaysia, 3 Laos. Yang Thailand dari wilayah Thung Yai daerah konservasi dekat Myanmar," tambahnya.
Dalam keseharian, para biksu menjalani pindapata, yakni menerima dana makanan dari masyarakat sekitar tanpa memilih jenis makanan tertentu.
“Mereka terbiasa ber-pindapata menerima dana makanan dari penduduk yang bertempat tinggal sekitar hutan,” ujar Sanjaya. Apa pun makanan yang diberikan masyarakat, itulah yang mereka santap selama perjalanan. Kesederhanaan juga terlihat dari pakaian yang digunakan. Para biksu hanya membawa satu jubah untuk dipakai setiap hari selama thudong berlangsung.
“Perjalanan siang panas basah, sore dicuci sendiri, dijemur, kemudian besoknya dipakai lagi,” imbuh Sanjaya. Perjalanan panjang itu tentu bukan tanpa rasa sakit. Kaki para bhikkhu kerap melepuh setelah berjalan puluhan kilometer di bawah panas Matahari. Namun, mereka tetap melanjutkan perjalanan.
“Dalam perjalanan kaki mereka melepuh, hanya di tusuk dengan peniti sehingga airnya keluar, d beri obat, kemudian jalan lagi,” jelas Sanjaya.
Bagi Sanjaya, perjalanan para bhikkhu dari Bali menuju Candi Borobudur bukan sekadar ritual keagamaan. Perjalanan itu juga menjadi gambaran nyata semangat Bhinneka Tunggal Ika yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.
Tidak ada komentar: