Operasi bariatrik kerap menjadi salah satu opsi medis untuk menangani obesitas berat, terutama pada pasien yang kesulitan menurunkan berat badan melalui perubahan gaya hidup. Namun, prosedur ini tidak bisa dipandang sebagai solusi tunggal. Para ahli menegaskan bahwa keberhasilan operasi bariatrik sangat bergantung pada pendampingan menyeluruh, termasuk dari dokter, ahli gizi, hingga psikolog.
Gaya Hidup Modern dan Sulitnya Menurunkan Berat Badan Dokter spesialis bedah digestif dr. Handy Wing, Sp.B, Subsp.BD(K), FBMS, FICS, FInaCS menjelaskan bahwa obesitas umumnya berkaitan erat dengan gaya hidup modern. Konsumsi makanan ultra-proses yang tinggi gula dan lemak, kurang aktivitas fisik, kurang tidur, serta stres kronis menjadi faktor yang saling berkontribusi dalam peningkatan berat badan. Kondisi tersebut, jika berlangsung lama, dapat memicu adaptasi metabolik.
Tubuh akan menyesuaikan diri dengan berat badan baru sehingga metabolisme melambat dan proses penurunan berat badan menjadi semakin sulit. Dalam situasi ini, upaya diet dan olahraga saja sering kali tidak cukup untuk mencapai hasil yang signifikan.
Operasi Bariatrik sebagai Terapi Metabolik Karena itu, pasien obesitas dengan kondisi tertentu dapat menjalani program penanganan yang lebih terstruktur, termasuk operasi bariatrik. Prosedur ini dilakukan dengan mengubah anatomi saluran cerna untuk membantu mengontrol rasa lapar, penyerapan kalori, serta respons hormonal yang berkaitan dengan metabolisme, termasuk diabetes. “Operasi bariatrik adalah bagian dari terapi penyakit metabolik, prosedur ini bekerja dengan mengubah anatomi saluran cerna sehingga membantu mengontrol rasa lapar, penyerapan kalori serta respons hormonal yang berkaitan dengan diabetes dan gangguan metabolik lainnya," ujar dr. Handy dikutip dari ANTARA, Selasa (5/5/2026). Meski demikian, dokter menegaskan bahwa operasi bariatrik bukanlah jalan pintas untuk menurunkan berat badan. Terdapat kriteria medis tertentu yang menjadi pertimbangan, seperti pasien dengan diabetes melitus dan BMI di atas 27,5, pasien dengan komorbid dengan BMI di atas 30, atau pasien tanpa komorbid dengan BMI di atas 35.
Perubahan Pola Makan Pascabariatrik Lebih dari itu, pasien juga perlu memahami bahwa perubahan besar justru terjadi setelah operasi. Volume lambung yang mengecil membuat pola makan harus diubah secara signifikan dan permanen. Tanpa disiplin dan pendampingan yang tepat, hasil operasi berisiko tidak bertahan dalam jangka panjang. Di sinilah peran ahli gizi menjadi penting. Ahli Gizi Veronica, S.Gz menjelaskan bahwa pasien pascabariatrik membutuhkan edukasi menyeluruh terkait pola makan baru.
Fokus utama berada pada kecukupan cairan dan protein, pencegahan defisiensi mikronutrien, serta penyesuaian tahapan makanan sesuai kondisi lambung yang baru. Dampak Psikologis dan Risiko Depresi Namun, aspek fisik saja tidak cukup. Perubahan drastis yang dialami pasien setelah operasi juga berdampak pada kondisi psikologis. Perubahan tubuh, pola makan, hingga hubungan dengan makanan dapat memicu tantangan emosional yang tidak ringan. Beberapa studi yang dirangkum dalam literatur medis, termasuk dari PubMed, menunjukkan sekitar 15 persen pasien bariatrik dapat mengalami depresi setelah operasi. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh perubahan hormon, adaptasi metabolik, hingga tekanan psikologis dalam menjalani gaya hidup baru.
Pentingna Pendampingan Psikolog Karena itu, skrining psikologis sebelum operasi serta pendampingan setelah tindakan menjadi langkah yang sangat dianjurkan. Pendampingan ini bertujuan untuk memastikan pasien mampu beradaptasi secara mental, menjaga konsistensi pola hidup baru, serta mencegah gangguan kesehatan mental yang dapat mengganggu proses pemulihan.
Dengan demikian, operasi bariatrik bukan sekadar prosedur medis, melainkan bagian dari terapi jangka panjang yang melibatkan pendekatan multidisiplin. Keberhasilan tidak hanya ditentukan di ruang operasi, tetapi juga dari kesiapan pasien menjalani perubahan menyeluruh dengan dukungan tim medis yang lengkap.
Tidak ada komentar: