Bencana banjir yang melanda enam kecamatan di Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur, hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan surut. Memasuki hari keempat, warga di Kecamatan Long Iram mulai didera rasa cemas lantaran curah hujan diprediksi masih akan terus turun tinggi. Arbian Saputra, salah seorang warga Kecamatan Long Iram, mengaku saat ini tengah bersiap-siap mengevakuasi barang-barang berharganya ke tempat yang aman sebagai langkah antisipasi jika debit air kembali merangkak naik. "Saya sudah mulai mengemasi barang, siap-siap kalau air terus naik. Kalau memang air terus naik, saya akan mengungsi ke posko darurat yang sudah disiapkan di Puskesmas. Tapi untuk sementara ini, saya bertahan saja dulu di rumah," kata Arbi saat dihubungi Kompas.com dari Balikpapan, Kamis (21/5/2026).
Ketinggian air di Kampung Anah Capai 2,5 meter Pemuda yang akrab disapa Arbi Long Iram ini menerangkan, saat ini ketinggian air di pusat Kecamatan Long Iram Kota berada pada level 1 hingga 1,5 meter.
Namun, kondisi jauh lebih parah terjadi di daerah pinggiran seperti Kampung Anah, di mana ketinggian air dilaporkan sudah tergenang hingga mencapai 2,5 meter dan merendam rumah warga. Situasi pelik ini otomatis melumpuhkan mobilitas warga. Apalagi, tidak semua warga di wilayah tersebut memiliki fasilitas perahu kayu pribadi untuk digunakan sebagai alat transportasi darurat.
"Kalau kendaraan bermotor sudah tidak mungkin digunakan, bahkan sebagian besar sudah diungsikan oleh pemiliknya ke lokasi yang lebih tinggi seperti di daerah Sukomulyo. Begitu juga dengan binatang ternak, sudah dipindahkan semua ke tempat tinggi," jelasnya. Akibat keterbatasan armada perahu, warga yang terdesak kebutuhan logistik harian seperti beras, telur, dan mi instan, terpaksa nekat berjalan kaki menerobos banjir setinggi dada. Hingga hari keempat banjir, sebagian besar warga memilih bertahan di dalam rumah dengan cara membuat panggung kayu tambahan atau mengungsi ke lantai dua. Namun, sebagian warga yang rumahnya terendam parah sudah mulai bergeser ke rumah kerabat yang berada di kawasan dataran tinggi.
Berharap ada bantuan logistik
Di tengah kondisi yang kian sulit, Arbi membeberkan bahwa uluran bantuan logistik dari pemerintah daerah belum menyentuh wilayahnya. "Setahu saya di lingkungan RT 5 belum ada bantuan sama sekali. Kami sangat berharap ada bantuan logistik darurat yang masuk, terutama bahan makanan pokok," kata dia. Selain kesulitan beraktivitas, warga Long Iram kini juga dihantui oleh teror kemunculan satwa liar dari dalam hutan yang berbatasan langsung dengan pemukiman.
Banjir besar ini memaksa hewan-hewan tersebut keluar dari sarangnya. "Ketakutan kami saat ini adalah hewan liar seperti ular kobra yang sering muncul karena pemukiman kami berdekatan dengan hutan. Kalau untuk ancaman binatang lain sepertinya tidak ada," ungkap Arbi. Dia menambahkan, banjir akibat luapan Sungai Mahakam ini diakui warga memang sudah menjadi fenomena musiman yang umum terjadi di Kutai Barat.
Bahkan pada bulan April lalu, banjir sempat merendam wilayah Long Iram. "Namun, banjir kali ini merupakan yang tertinggi dan terparah sepanjang tahun 2026," pungkas Arbi.
Tidak ada komentar: