Menyusui hingga usia dua tahun merupakan rekomendasi global yang telah lama digaungkan. Namun dalam praktiknya, tidak semua ibu mampu menjalani proses tersebut dengan mulus. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan, sekitar 64,9 persen anak usia 12–23 bulan masih mendapatkan ASI. Angka ini memberi gambaran bahwa praktik menyusui masih cukup berjalan, meski belum sepenuhnya mencerminkan kualitas pemberian ASI secara optimal.
Di balik angka tersebut, terdapat berbagai tantangan yang dihadapi ibu, mulai dari faktor pekerjaan hingga minimnya dukungan lingkungan. Dukungan lingkungan jadi kunci utama Keberhasilan menyusui bukan semata tanggung jawab ibu. Lingkungan sekitar memegang peran besar dalam menentukan apakah seorang ibu dapat menyusui hingga dua tahun atau tidak. Menurut Konselor Menyusui dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia, Lianita Prawindart, ibu yang berhasil menyusui umumnya didukung oleh sistem yang kuat di sekitarnya.
“Ibu yang berhasil menyusui bukan hanya karena usahanya sendiri, tetapi juga karena adanya sistem pendukung yang kuat di sekitarnya,” ujar Lianita saat dihubungi Kompas.com, Rabu (6/5/2026). Sebaliknya, ketika ibu mengalami hambatan, hal tersebut sering kali berkaitan dengan kurangnya dukungan yang ia terima. Peran ayah dan keluarga tidak tergantikan Di lingkungan terdekat, ayah dan keluarga memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan menyusui.
Bentuk dukungan bisa berupa hal sederhana, seperti membantu pekerjaan rumah, memberi waktu istirahat bagi ibu, hingga memberikan dukungan emosional saat ibu merasa lelah atau ragu. “Dukungan menyusui harus dapat meningkatkan kepercayaan diri ibu dan membantu memberikan solusi saat menghadapi masalah,” kata Lianita. Kepercayaan diri ibu dalam menyusui sangat dipengaruhi oleh respons orang terdekatnya. Ketika ibu merasa didukung, ia cenderung lebih yakin untuk melanjutkan pemberian ASI.
Tantangan di tempat kerja Bagi ibu bekerja, tantangan menyusui sering kali menjadi lebih kompleks. Durasi cuti melahirkan di Indonesia yang masih terbatas membuat banyak ibu harus kembali bekerja saat proses menyusui belum sepenuhnya stabil.
Selain itu, tidak semua tempat kerja menyediakan fasilitas yang memadai, seperti ruang laktasi atau waktu khusus untuk memerah ASI
Padahal, dukungan dari tempat kerja sangat krusial untuk memastikan ibu tetap dapat memberikan ASI secara optimal. Lingkungan kerja yang ramah menyusui bukan hanya membantu ibu, tetapi juga berkontribusi pada kesehatan jangka panjang anak.
Miskonsepsi yang masih beredar Selain faktor eksternal, tantangan juga datang dari kesalahpahaman yang masih banyak beredar di masyarakat. Salah satunya adalah anggapan bahwa ASI tidak lagi penting setelah bayi mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI (MPASI). Padahal, ASI tetap memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan gizi dan kekebalan tubuh anak hingga usia dua tahun atau lebih.
“Miskonsepsi ini bisa mengurangi kepercayaan diri ibu, bahkan membuat ibu merasa ASI-nya tidak cukup,” ujar Lianita. Kesalahpahaman ini juga terkadang muncul dari lingkungan sekitar, bahkan dari tenaga kesehatan yang belum sepenuhnya memahami rekomendasi menyusui hingga dua tahun. Pentingnya dukungan berbasis informasi Dukungan yang dibutuhkan ibu tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga harus berbasis informasi yang tepat. Saat menghadapi masalah menyusui, ibu disarankan untuk mencari bantuan dari konselor menyusui atau tenaga kesehatan yang kompeten. Pendekatan ini penting karena setiap ibu dan bayi memiliki kondisi yang berbeda, sehingga solusi yang diberikan pun harus bersifat personal. “Permasalahan menyusui sering terlihat sama, tetapi akar masalah dan solusinya bisa berbeda. Konseling membantu menemukan solusi yang tepat,” kata Lianita.
Hak ibu untuk menyusui Menyusui bukan hanya soal pilihan pribadi, tetapi juga merupakan hak ibu dan anak yang perlu dilindungi. Hak ini mencakup kesempatan untuk menyusui kapan pun dan di mana pun, tanpa tekanan atau stigma dari lingkungan sekitar.
Dengan dukungan yang tepat, baik dari keluarga, tenaga kesehatan, maupun kebijakan yang berpihak ibu memiliki peluang lebih besar untuk mencapai target menyusui hingga dua tahun. Lianita meyenyebut keberhasilan menyusui adalah hasil dari kerja bersama. Bukan hanya perjuangan seorang ibu, tetapi juga cerminan dari seberapa besar lingkungan mendukungnya.
Tidak ada komentar: