Pemerintah Jerman memberlakukan aturan baru yang mewajibkan pria berusia 17 hingga 45 tahun untuk mendapatkan izin militer jika ingin tinggal di luar negeri dalam jangka waktu lama. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi memperkuat pertahanan nasional di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di Eropa. Aturan tersebut tertuang dalam Undang-Undang Modernisasi Layanan Militer yang mulai berlaku per 1 Januari. "Jika terjadi keadaan darurat, kita harus tahu siapa saja yang mungkin sedang tinggal di luar negeri untuk waktu lama," ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Jerman kepada BBC, dikutip Senin (6/4/2026).
Syarat ke luar negeri lebih dari tiga bulan Berdasarkan ketentuan terbaru, pria yang masuk dalam rentang usia produktif wajib melapor dan mengantongi persetujuan terlebih dahulu jika berencana menetap di luar negeri selama lebih dari tiga bulan. Meski landasan hukumnya merujuk pada Undang-Undang Wajib Militer tahun 1956, amandemen terbaru yang disahkan Desember lalu memperluas cakupan aturan ini. Sebelumnya, kewajiban melapor hanya berlaku jika Jerman dalam status mobilisasi atau pertahanan nasional. Kini, aturan tersebut berlaku secara permanen dalam kondisi damai sekalipun. Peraturan tentang pengecualian sedang dikembangkan sebagian untuk menghindari birokrasi yang tidak perlu.
Target 260.000 pasukan pada 2035 Undang-Undang Modernisasi Layanan Militer menetapkan rencana untuk memperluas jumlah personel aktif dari sekitar 180.000 menjadi 260.000 pada 2035. Pada Desember lalu, parlemen Jerman memberikan suara untuk memperkenalkan wajib militer sukarela. Ini berarti, semua remaja berusia 18 tahun akan menerima kuesioner yang menanyakan apakah mereka tertarik untuk bergabung dengan angkatan bersenjata.
Mulai Juli 2027, mereka juga harus menjalani penilaian kebugaran untuk menentukan apakah mereka memenuhi syarat untuk bertugas jika perang pecah. Perempuan boleh mendaftar sebagai sukarelawan untuk dinas militer, tetapi tidak dapat dipaksa untuk bertugas berdasarkan konstitusi Jerman. Meskipun rencananya adalah layanan sukarela, jika situasi keamanan memburuk atau jika terlalu sedikit sukarelawan yang mendaftar, bentuk wajib militer dapat dipertimbangkan.
Protes kaum muda Ketika undang-undang tersebut disetujui oleh parlemen, banyak anak muda bergabung dalam protes menentang perubahan tersebut. "Kami tidak ingin menghabiskan setengah tahun hidup kami terkunci di barak, dilatih dalam latihan baris-berbaris dan kepatuhan serta belajar membunuh," tulis seorang pengguna media sosial. Seperti negara-negara Eropa lainnya, Jerman mengurangi jumlah angkatan bersenjatanya selama masa damai di tahun 1990-an. Selama Perang Dingin, Jerman memiliki angkatan bersenjata hampir setengah juta orang.
Wajib militer di Jerman diakhiri pada tahun 2011 di bawah kepemimpinan Kanselir Angela Merkel saat itu. Kanselir Friedrich Merz telah berjanji untuk membangun kembali Bundeswehr menjadi tentara konvensional terkuat di Eropa sebagai tanggapan terhadap apa yang digambarkan pemerintahnya sebagai lingkungan keamanan yang lebih berbahaya di Eropa.
Tidak ada komentar: