Kebiasaan merokok tidak hanya berdampak pada paru-paru, tetapi juga bisa memengaruhi kesehatan otak. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa merokok dapat meningkatkan risiko demensia melalui mekanisme biologis yang sebelumnya belum diketahui. Temuan ini memperkuat hubungan antara kebiasaan merokok dan penurunan fungsi kognitif di kemudian hari.
Merokok ganggu jalur komunikasi paru-paru dan otak Melansir Daily Mail (9/4/2026), peneliti dari University of Chicago menemukan adanya hubungan langsung antara paru-paru dan otak yang disebut “lung-brain axis”. Nikotin dari rokok memicu sel khusus di paru-paru untuk melepaskan partikel kecil bernama eksosom.
Partikel ini kemudian memengaruhi cara otak mengatur zat besi, yang penting untuk menjaga kesehatan sel saraf.
“Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan jelas antara paru-paru dan otak yang dapat menjelaskan mengapa merokok berkaitan dengan penurunan kognitif,” ujar peneliti Kui Zhang. Gangguan pada keseimbangan zat besi dapat merusak sel saraf dan memicu stres pada sistem energi otak. Kondisi ini berkontribusi pada perkembangan penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kebiasaan merokok berat di usia paruh baya berkaitan dengan peningkatan risiko demensia. Risiko tersebut bahkan bisa meningkat lebih dari dua kali lipat dalam jangka panjang.
Hal ini menunjukkan bahwa dampak merokok tidak hanya terjadi dalam waktu dekat, tetapi juga bertahan hingga bertahun-tahun kemudian. Peneliti juga menegaskan bahwa paru-paru bukan hanya organ pernapasan, tetapi berperan aktif dalam mengirim sinyal yang memengaruhi kesehatan otak. “Paru-paru bukan hanya target paparan asap, tetapi juga organ yang aktif memengaruhi kesehatan otak,” ujar Assistant Prof. Joyce Chen. Temuan ini membuka pemahaman baru tentang bagaimana kebiasaan merokok dapat berdampak luas pada tubuh.
Penelitian masih dikembangkan Meski hasil penelitian ini memberikan gambaran baru, peneliti menekankan bahwa studi lanjutan masih diperlukan. Mekanisme ini masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut pada manusia. Tim peneliti saat ini juga sedang mengeksplorasi kemungkinan terapi untuk mencegah kerusakan otak akibat paparan asap rokok.
Upaya ini diharapkan dapat membantu mengurangi risiko gangguan kognitif di masa depan. Merokok tidak hanya berdampak pada paru-paru, tetapi juga dapat meningkatkan risiko demensia melalui mekanisme biologis yang kompleks.
Gangguan komunikasi antara paru-paru dan otak menjadi salah satu faktor yang berperan dalam penurunan fungsi kognitif. Temuan ini menunjukkan pentingnya menjaga kesehatan dengan mengurangi kebiasaan merokok sejak dini.
Tidak ada komentar: