Seorang bocah laki-laki berusia sembilan tahun diselamatkan polisi, setelah diduga dikurung di dalam mobil van milik ayahnya sejak 2024 di desa Perancis. Kasus ini terungkap pada Senin (6/4/2026) setelah tetangga melaporkan ada suara mencurigakan dari dalam kendaraan di Hagenbach, wilayah dekat perbatasan Swiss dan Jerman. Polisi kemudian mendobrak pintu van dan menemukan kondisi anak yang memprihatinkan.
Jaksa Perancis Nicolas Heitz mengatakan, anak tersebut ditemukan berbaring seperti posisi janin, telanjang, ditutupi selimut di atas tumpukan sampah dan dekat kotoran. Ia juga menjelaskan, kondisi fisik korban sangat lemah akibat kekurangan gizi
Anak tersebut bahkan tidak dapat berjalan karena terlalu lama dalam posisi duduk. Saat diajak berbicara oleh petugas, bocah itu mengaku belum mandi sejak 2024. Penyelidikan kemudian mengarah pada ayah korban, yang mengaku menempatkan anak tersebut di dalam kendaraan sejak November 2024. Ia berdalih tindakan itu dilakukan untuk melindungi anaknya. Menurut pengakuannya, keputusan tersebut diambil karena pasangannya ingin mengirim anak itu ke rumah sakit jiwa. Namun, jaksa tidak menemukan catatan medis yang menunjukkan anak tersebut memiliki gangguan kejiwaan sebelum menghilang. Ayah korban kini ditahan dan menghadapi sejumlah tuduhan, termasuk penculikan. Sementara itu, pasangan ayah tersebut membantah mengetahui keberadaan anak di dalam van. Meski demikian, ia tetap didakwa atas dugaan gagal memberikan pertolongan kepada anak di bawah umur yang berada dalam bahaya. Dia dibebaskan dengan status pengawasan yudisial.
Tetangga bernama Danielle mengaku tidak pernah mencurigai adanya kejadian tersebut.
“Kami tidak mengerti. Ini mengerikan, tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkannya,” ujar Danielle, dikutip dari Sky News pada Sabtu (11/4/2026).
Ia juga menambahkan, selama ini tidak ada tanda-tanda mencurigakan yang dia perhatikan. “Saya tidak pernah sekali pun melihat apa pun, tidak pernah mendengar apa pun... Rasanya seperti kita hidup dalam film atau mimpi, dan kita terus berpikir, 'besok saya akan bangun, dan mungkin ini tidak nyata'. Kami benar-benar tidak bisa memahaminya,” lanjutnya. Sementara itu, dua anak lain dalam keluarga tersebut kini berada dalam perlindungan layanan sosial.
Mereka adalah saudara perempuan korban yang berusia 12 tahun, serta anak perempuan pasangan ayahnya yang berusia 10 tahun.
Menurut keterangan teman dan keluarga, mereka sebelumnya mengira korban anak laki-laki tadi sedang dirawat di fasilitas psikiatri.
Sementara pihak sekolah menerima informasi bahwa anak tersebut telah dipindahkan ke sekolah lain.
Tidak ada komentar: