Saat ini Umat Islam tengah menunaikan ibadah puasa pada bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah atau 2026. Puasa ditunaikan mulai dari imsak sebelum Matahari terbit sampai dengan memasuki waktu Maghrib. Beberapa orang mungkin bisa benar-benar lupa untuk niat puasa Ramadhan, hingga ia baru menyadari hal itu pada siang hari ketika sedang berpuasa. Lantas, apakah lupa niat membatalkan puasa Ramadhan?
Penjelasan ahli soal hukum niat puasa Ramadhan Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat mengatakan, kedudukan niat sangat fundamental. Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah SAW sebagai berikut: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). “Hadis ini menjadi kaidah besar dalam seluruh pembahasan fikih,” kata Arsad kepada Kompas.com, Rabu (4/3/2026). Secara khusus dalam puasa wajib, terdapat hadis yang lebih tegas dengan berbunyi: “Barang siapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Dawud dan al-Tirmidzi).
Arsad menyampaikan, Mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hambali memahami hadis tersebut sebagai kewajiban berniat pada malam hari sebelum terbit fajar untuk puasa wajib seperti Ramadhan. Menurut pandangan Imam al-Syafi'i, setiap hari puasa Ramadhan adalah ibadah yang berdiri sendiri, sehingga niatnya pun harus diperbarui setiap malam. “Sebagian ulama Maliki membolehkan satu niat di awal Ramadhan untuk satu bulan penuh, selama tidak terputus oleh uzur seperti sakit, safar, dan haid,” ucap Arsad. Namun demikian, mayoritas umat Islam di Indonesia mengikuti Mazhab Syafi’i, sehingga niatnya dianjurkan dilakukan setiap malam.
Jika seseorang benar-benar lupa berniat hingga terbit fajar dan ia tidak memiliki kesadaran sama sekali di malam hari untuk berpuasa esoknya, maka puasanya pada hari itu tidak sah sebagai puasa Ramadhan menurut pendapat mayoritas.
Meski begitu, Arsad menyebutkan bahwa ia tetap wajib menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa hingga Maghrib. “Ia tetap wajib menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa hingga Maghrib sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan suci, dan setelah Ramadhan ia berkewajiban mengqadha satu hari tersebut,” beber dia. Sementara itu, ada perbedaan pandangan dalam khazanah fikih Islam bagi Mazhan Abu Hanifah (Hanafi).
Niat puasa tersebut masih sah selama belum tergelincirnya surya (zawal) dan belum melakukan hal yang membatalkan puasa.
“Dengan demikian, jika seseorang lupa berniat malam hari, lalu ia ingat di pagi hari sebelum waktu zawal dan sejak Subuh belum makan, minum, atau melakukan pembatal puasa, maka ia boleh segera berniat dan puasanya sah menurut Mazhab Hanafi,” ujar Arsad. Ia mengingatkan bahwa niat itu tempatnya di dalam hati, bukan semata-mata melafalkan di lisan.
Seseorang yang sudah terbiasa setiap Ramadhan bangun sahur lalu makan dengan kesadaran akan berpuasa esok hari, pada hakikatnya sudah berniat. Hal tersebut sudah dianggap niat meskipun seseorang tidak melafalkan kalimat niatnya secara verbal. Dalam hal ini, para ulama menjelaskan bahwa kesadaran batin untuk berpuasa itulah yang disebut niat. “Oleh karena itu, dalam menjawab pertanyaan masyarakat, dapat disimpulkan bahwa jika benar-benar tidak ada niat sama sekali sebelum fajar, maka menurut mayoritas ulama puasanya tidak sah dan wajib di-qadha,” terang Arsad. “Namun bila ia hanya lupa melafalkan niat, sementara di dalam hatinya telah ada tekad untuk berpuasa karena sadar bahwa esok adalah Ramadhan, maka puasanya tetap sah,” sambungnya. Dia menyebut bahwa sikap kehati-hatian tentu lebih utama, tetapi memahami keluasan pendapat ulama juga bagian dari kebijaksanaan dalam menyampaikan hukum kepada umat.
6 bacaan niat puasa Ramadhan Berikut ini enam versi bacaan niat puasa Ramadhan:
Artinya: “Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala”. Versi 2 Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanata lillahi ta‘ala. Artinya: “Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala”. Versi 3 Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadhani hadzihis sanati lillahi ta‘ala.
Artinya: “Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala”.
Versi 4 Nawaitu shauma Ramadhana. Artinya: “Aku berniat puasa bulan Ramadhan”. Versi 5 Nawaitu shauma ghadin min/'an Ramadhana. Artinya: “Aku berniat puasa esok hari pada bulan Ramadhan”.
Versi 6 (untuk sebulan penuh) Nawaitu shaumal ghadi min hadzihis sanati ‘an fardhi Ramadhana. Artinya: “Aku berniat puasa esok hari pada tahun ini perihal kewajiban Ramadhan”.
Tidak ada komentar: