Fenomena penurunan angka kelahiran di Indonesia bukan lagi sekadar isu kependudukan, melainkan cerminan perubahan gaya hidup dan cara pandang pasangan suami istri (pasutri) modern. Memutuskan untuk memiliki anak kini tidak lagi dianggap sebagai kewajiban otomatis setelah menikah, melainkan sebuah tanggung jawab besar yang memerlukan perencanaan matang. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kelahiran total atau total fertility rate (TFR) Indonesia terus menyusut dalam lima dekade terakhir. Jika pada Sensus Penduduk (SP) 1971 angka TFR berada di level 5,61, angka tersebut merosot tajam menjadi 2,18 pada data SP 2020. Penurunan signifikan ini memberikan sinyal bahwa semakin sedikit anak yang lahir dari setiap perempuan pada usia reproduksinya.
Apa yang menyebabkan angka kelahiran menurun? Penurunan ini ditengarai muncul karena pasangan muda saat ini jauh lebih sadar akan konsekuensi panjang dari pengasuhan anak.
Mereka cenderung memantapkan diri terlebih dahulu secara lahir dan batin sebelum benar-benar siap memikul tanggung jawab sebagai orangtua. Kesiapan mental dan isu inner child Pendiri layanan kesehatan mental Cup of Stories, Fitri Jayanthi, M.Psi., Psikolog, mengungkapkan, kesadaran akan kesehatan mental menjadi salah satu faktor penentu mengapa pasutri cenderung menunda atau membatasi jumlah anak.
Banyak pasangan yang menyadari bahwa pola asuh yang salah di masa lalu dapat berdampak buruk bagi tumbuh kembang anak di masa depan. “Saat ini, memang banyak pasutri yang mengungkapan bahwa mereka harus mempertimbangkan banyak hal dulu sebelum memiliki anak,” ungkap Fitri saat dihubungi pada Senin (2/3/2026). Mereka ingin memastikan bahwa trauma masa kecil atau inner child yang belum terselesaikan tidak akan menurun kepada anak mereka nantinya. "Mereka mempersiapkan mental untuk berperan sebagai orang tua, karena banyak dari mereka yang belum bisa menghadapi inner child mereka dengan baik," ucap dia.
Dampak arus informasi dan internet Kemudahan akses informasi melalui internet dan media sosial turut berperan besar dalam membentuk pola pikir generasi baru. Psikolog klinis dewasa, Adelia Octavia Siswoyo, menuturkan, pasangan muda kini bisa dengan mudah mempelajari risiko, biaya, hingga tantangan nyata dalam membesarkan anak melalui pengalaman orang lain yang dibagikan secara luas. “Dengan jangkauan internet yang mudah diakses, dan media massa yang menjadi keseharian generasi baru, kesadaran akan hal-hal yang dihadapi ketika punya anak kelak sudah sewajarnya terbentuk,” tutur dia, Senin. Hal ini membuat keputusan untuk memiliki anak menjadi lebih terencana dibandingkan generasi sebelumnya. Sebab, pasutri sudah memantapkan diri jauh sebelum memutuskan untuk memiliki anak.
“Kesadaran yang sudah terbentuk ini membuat keputusan untuk memiliki anak biasanya jauh lebih matang dan terencana," ucap Adelia. Pertimbangan ekonomi yang lebih realistis Selain aspek psikologis, faktor ekonomi tetap menjadi pertimbangan yang sangat penting. Biaya pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan harian anak yang terus meningkat menuntut pasutri untuk memiliki fondasi finansial yang kokoh terlebih dahulu. “Pasutri semakin sadar akan kesiapan ekonomi mereka untuk membiayai kehidupan anak di masa depan,” terang Fitri.
Menurut dia, kesiapan ekonomi untuk membiayai kehidupan anak di masa depan adalah poin yang tidak bisa dikesampingkan. Dengan segala pertimbangan tersebut, Fitri dan Adelia setuju bahwa penurunan angka kelahiran dapat dilihat sebagai bentuk tanggung jawab pasutri untuk melahirkan generasi yang lebih berkualitas, sehat secara mental, dan terjamin secara ekonomi.
Tidak ada komentar: