Kanker prostat kerap dianggap sebagai penyakit pria lanjut usia. Padahal sebenarnya, kanker prostat juga dapat terjadi pada pria usia muda, meski jumlahnya relatif jarang. Hal ini diungkapkan oleh Prof. Dr. dr. Agus Rizal A.H. Hamid, SpU (K) Onk, FICRS, Konsultan Urologi Onkologi. “Ada, tapi jarang sekali. Usia yang paling muda kalau kanker prostat sekitar di awal 40,” ujarnya saat Media Meet Up di Eka Hospital MT Haryono, Jakarta Selatan, Selasa (14/1/2026).
Menurutnya, saat ini makin banyak kasus kanker prostat ditemukan pada pria usia di bawah 50 hingga 55 tahun. Hal ini dipengaruhi oleh makin luasnya pemeriksaan (Prostate Specific Antigen) PSA serta penggunaan biopsi berbasis robotik.
“Dengan perkembangan pemeriksaan PSA, kemudian kita melakukan biopsi dengan robotik juga, itu saya menemukan banyak kasus-kasus yang umur di bawah 50 sampai 55 tahun sudah terkena kanker prostat,” katanya.
Risiko kanker prostat pada pria muda Sementara itu, pada pria di bawah usia 40 tahun, gangguan prostat umumnya bukan berupa kanker. “Kalau di bawah 40 tahun, biasanya yang terkena untuk prostat adalah peradangan prostat. Hanya peradangan, tapi tetap kita harus periksa,” tutur Prof. Agus. Prof. Agus menyebutkan, pasien kanker prostat termuda yang pernah ditemuinya berusia sekitar 39 atau 40 tahun. Namun, kanker prostat pada usia lebih muda memiliki karakteristik berbeda.
“Jenisnya berbeda dan karakteristiknya berbeda sekali,” katanya. Namun, ia juga menjelaskan jika kanker prostat pada usia muda cenderung lebih agresif. “Artinya cepat tumbuhnya, progresi penyebarannya lebih cepat, dan usianya juga lebih cepat kalau yang lebih muda. Makanya begitu lebih muda, kita harus berpikir tindakannya atau pengobatannya lebih agresif,” jelasnya.
Gaya hidup dapat menurunkan risiko kanker prostat Menurut dr. Agus, hingga kini belum ada faktor spesifik yang bisa menjelaskan penyebab kanker prostat pada usia muda. “Pasiennya enggak ada masalah, harusnya dari gaya hidup. Justru makin muda, kita justru enggak tahu,” ujarnya. Ia menegaskan, gaya hidup sehat memang dapat menurunkan risiko kanker, tetapi tidak bisa menghilangkan risiko sepenuhnya.
“Gaya hidup sehat itu sudah pasti datanya menurunkan. Tapi kan turun, bukan nol ya,” katanya. Oleh sebab itu, ia menyarankan pemeriksaan kesehatan rutin sebagai langkah pencegahan. “Makanya saran kedua sebelum kita bisa menentukan apa penyebabnya, kita sarankan untuk medical check up. Di atas 18 sampai 20 tahun itu sebenarnya sudah harus mulai,” saran Prof. Agus.
Gejala sering tidak disadari Di sisi lain, kanker prostat pada tahap awal sering tidak menimbulkan keluhan. Pemeriksaan utama yang disarankan adalah tes PSA melalui pemeriksaan darah. “Kalau gejala awal itu tidak ada. Kalau kanker prostat yang perlu diperiksa adalah PSA, itu laboratorium,” ujar Prof. Agus. Sementara itu, bila gejala muncul, keluhannya berupa gangguan berkemih. “Apapun gangguan berkemih pada laki-laki kita mesti berpikir jangan-jangan ada cancer,” ujarnya.
Prof. Agus juga menegaskan, kanker prostat yang terdeteksi lebih awal memiliki peluang pengobatan yang jauh lebih baik. Apalagi, dari pengalamannya, sekitar separuh pasien justru tidak memiliki gejala.
“Mungkin sekarang pasien saya 50 persen enggak ada gejala. Dia medical check up, PSA-nya naik. Begitu kita periksa, kita biopsi, ternyata ada cancer,” katanya. Maka dari itu, ia menyarankan agar pria, termasuk yang masih berusia relatif muda, untuk tidak menunda pemeriksaan kesehatan.
Tidak ada komentar: