Utusan AS untuk PBB menyampaikan kepada Dewan Keamanan (DK) PBB pada Kamis (22/8/2024) bahwa kesepakatan gencatan senjata di Gaza dan pembebasan sandera sudah di depan mata. Mereka juga mendesak para anggota DK PBB menekan Hamas agar menerima proposal penghubung yang disetujui oleh Israel. Pembicaraan selama berbulan-bulan telah membahas isu yang sama, tetapi Israel dan Hamas masih berpegang pada tuntutan mereka.
Dilansir dari Reuters, Duta Besar AS untuk PBB Linda Thomas-Greenfield mengatakan proposal penghubung diajukan minggu lalu oleh AS, Qatar dan Mesir. Isi proposal disebut konsisten dengan rencana yang digariskan Presiden Joe Biden pada bulan Mei dan didukung Dewan Keamanan pada bulan Juni.
"Israel telah menerima usulan penjembatanan tersebut. Sekarang Hamas harus melakukan hal yang sama," katanya kepada dewan. "Sebagai anggota dewan ini, kita harus berbicara dengan satu suara, dan kita harus menggunakan pengaruh kita untuk menekan Hamas agar menerima usulan penjembatanan tersebut." Tapi, perselisihan mengenai kehadiran militer Israel di masa depan di Gaza dan mengenai pembebasan tahanan Palestina menghalangi kesepakatan. Ini disampaikan sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan kepada Reuters. "Ini adalah momen yang menentukan bagi perundingan gencatan senjata dan bagi kawasan ini. Oleh karena itu, setiap anggota dewan ini harus terus mengirimkan pesan yang kuat kepada para pelaku lain di kawasan ini untuk menghindari tindakan yang akan menjauhkan kita dari penyelesaian kesepakatan ini," kata Thomas-Greenfield. Konflik di Gaza membuat seluruh kawasan Timur Tengah gelisah, memicu bentrokan perbatasan selama berbulan-bulan antara Israel dan gerakan Hizbullah di Lebanon yang didukung Iran, dan mengancam eskalasi yang lebih luas yang melibatkan negara-negara besar. Iran juga telah bersumpah untuk membalas dendam atas pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Teheran pada tanggal 31 Juli, yang dituduhkan kepada Israel.
Israel tidak membenarkan atau membantah bahwa mereka berada di balik pembunuhan tersebut. "Ada bahaya yang sangat nyata akan terjadinya eskalasi regional," kata Thomas-Greenfield. "Jadi mari kita lakukan segala daya upaya untuk menyelesaikan gencatan senjata dan pembebasan sandera ini sekarang juga."
Perang saat ini di Jalur Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023, ketika orang-orang bersenjata Hamas menyerbu komunitas Israel, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menculik sekitar 250 sandera, menurut penghitungan Israel.
Sejak saat itu, militer Israel telah menghancurkan sebagian besar wilayah kantong Palestina, mengusir hampir seluruh penduduknya yang berjumlah 2,3 juta orang dari rumah mereka, menimbulkan kelaparan dan penyakit mematikan serta menewaskan sedikitnya 40.000 orang.
Tidak ada komentar: