Masyarakat Jepang secara umum dikenal sangat menjunjung tinggi kesopanan di meja makan dan melarang perilaku makan yang menimbulkan suara bising. Namun, norma tersebut seolah tak berlaku saat berhadapan dengan sajian mi seperti soba, udon, atau ramen. Di Jepang, menyeruput mi hingga bersuara nyaring (slurping) justru dianggap wajar, tepat, dan lebih disukai.
Sikap masyarakat Jepang terhadap tradisi ini sempat menjadi sorotan publik ketika seorang pengguna platform X memicu perdebatan mengenai fenomena "Pelecehan Mi" atau noodle harassment (nu-hara). Narasi yang diembuskan mengklaim bahwa kebiasaan menyeruput mi mengganggu warga asing dan dikategorikan sebagai bentuk pelecehan. Meski polemik tersebut akhirnya mereda setelah diketahui sebagai isu yang sengaja dibuat-buat, tradisi menyeruput mi tetap menjadi keunikan budaya Jepang yang memicu respons beragam dari warga asing, mulai dari rasa heran hingga kurang nyaman.
Sebab, di hampir seluruh belahan dunia lainnya, kebiasaan menyeruput sajian mi seperti spageti atau lo mein di meja makan dianggap melanggar etiket, dikutip dari Nippon (20/6/2017).
Alasan ilmiah orang Jepang menyeruput mi Untuk mengurai latar belakang budaya unik ini, penulis kuliner dan pengamat soba, Motohashi Takashi, mewawancarai Horii Yoshinori, pemilik kedai soba legendaris Sarashina Horii yang berlokasi di distrik Azabu Jūban, Tokyo. Kedai berusia 220 tahun yang berdiri sejak 1789 tersebut merupakan salah satu destinasi kuliner favorit warga lokal maupun wisatawan asing. Horii memberikan penjelasan berbasis ilmu sains terkait tradisi penyeruputan mie tersebut.
“Saya berpendapat bahwa kebiasaan menyeruput berkembang sebagai cara untuk menikmati aroma soba secara lebih baik,” kata Horii. Ia menjelaskan bahwa aroma soba lebih optimal diresapi melalui mulut daripada hidung. Konsep ini mirip dengan proses pencicipan anggur (wine tasting), di mana terdapat dua jalur penciuman, yaitu orthonasal olfaction (menghirup aroma langsung melalui hidung) dan retronasal olfaction (menangkap aroma dari tenggorokan yang naik ke rongga hidung saat makanan atau minuman berada di dalam mulut). “Aroma soba sulit ditangkap melalui jalur pertama, jadi kami memaksimalkan jalur kedua,” ujar Horii. Menurut Horii, aroma khas soba sangat tercium saat proses memasak, terutama ketika dikukus dalam kukusan bambu pada zaman dahulu. Namun, aroma soba yang sudah masak dan disajikan jauh lebih samar. “Hal ini terutama berlaku untuk mori soba yang disajikan dingin. Tidak ada uap beraroma yang membumbung dari mi dingin, sehingga meskipun Anda menghirupnya secara aktif, tidak banyak aroma yang tercium. Namun, ketika Anda menyeruputnya secara kuat, Anda dapat merasakan aromanya meledak sepenuhnya di dalam mulut. Itulah cara makan soba yang benar,” kata Horii.
Sejarah soba dari Zaman Edo Tanaman gandum hitam (buckwheat atau soba) telah dibudidayakan di Jepang selama berabad-abad. Tanaman ini memiliki nilai gizi tinggi dan masa panen yang cepat, yakni hanya membutuhkan waktu 2,5 hingga 3 bulan dari penanaman hingga panen, jauh lebih cepat dibandingkan padi. Pada awalnya, biji gandum hitam diolah menjadi bubur, kemudian berkembang menjadi adonan pangsit, hingga akhirnya berevolusi menjadi olahan mi soba.
Catatan sejarah menunjukkan mi soba pertama kali muncul pada awal zaman Edo (1603–1868). Pada akhir abad ke-17, kedai soba mulai menjamur di kota Edo (sekarang Tokyo) dan menggeser popularitas udon. Kandungan protein dan vitamin B yang tinggi pada gandum hitam menjadi alasan utama mi soba sangat digemari. Pada sekitar tahun 1800, kota Edo memiliki sekitar 700 kedai soba, menjadikannya kategori penyedia makanan dan minuman terbesar kedua setelah kedai minum informal (izakaya).
“Edo adalah kota berpenduduk satu juta jiwa saat itu,” kata Horii.
“Edo merupakan salah satu pusat perkotaan terbesar di dunia. Untuk bertahan hidup di lingkungan yang sibuk dan kompetitif itu, masyarakat membutuhkan akses cepat ke makanan yang praktis dan bergizi. Itu bisa menjadi salah satu alasan soba berakar di Edo, sementara udon terus mendominasi di wilayah Kansai (Kyoto-Osaka),” ujarnya. Pada zaman Edo, masyarakat membeli dan mengonsumsi soba di warung pinggir jalan (street food) atau dari pedagang keliling malam yang memikul dagangannya. Walaupun etiket meja makan formal sudah berkembang pada masa itu, makan di kedai pinggir jalan memiliki kelonggaran tersendiri. “Ini adalah makanan rakyat jelata, jadi mereka tidak terlalu mengkhawatirkan etiket meja makan formal,” tutur Horii.
Sifat kedai pinggir jalan yang menuntut warga makan dengan cepat, sering kali sambil berdiri di tengah kesibukan mobilitas kerja, membuat kebiasaan menyeruput mi terbentuk secara alami. Kebiasaan ini kemudian bertahan hingga era modern dan memengaruhi cara masyarakat Jepang mengonsumsi jenis mi lainnya, seperti ramen
Bagi masyarakat Jepang, menyeruput mi adalah warisan tradisi sejak zaman Edo sekaligus bagian integral dari budaya kuliner nasional. Pelajaran mengenai etiket ini juga sering kali mengalir secara alami di kedai Sarashina Horii melalui interaksi ramah antara para pelanggan senior lokal dengan wisatawan mancanegara.
BEDCOVER AKIKO 180 FLAT AURORA
Baca Juga :
Tidak ada komentar: