Jika membayangkan hewan paling tangguh di dunia, banyak orang mungkin terpikirkan hewan berukuran besar seperti gajah, atau hewan buas pemakan daging seperti singa. Namun, terdapat satu hewan yang lebih ekstrem dibanding hewan-hewan tersebut, yakni cacing berukuran mikroskopis. Hewan tersebut hidup jauh di bawah permukaan tanah, bahkan hampir mendekati inti bumi. Namanya Halicephalobus mephisto, atau dijuluki cacing setan (devil worm). Hewan ini ditemukan hidup pada kedalaman sekitar 1,3 kilometer di bawah permukaan Bumi, dengan lingkungan yang panas, gelap, bertekanan tinggi, dan nyaris tanpa oksigen maupun cahaya Matahari. Para peneliti yang menemukannya mengatakan penemuan tersebut mengubah pemahaman ilmuwan tentang batas kehidupan hewan di Bumi.
Hidup di dunia yang seharusnya tak bisa dihuni Sebelum tahun 1980-an, sebagian besar ahli biologi meyakini kehidupan tidak mungkin ada lebih dari sekitar 30 sentimeter di bawah permukaan tanah. Pandangan itu mulai berubah pada 1990-an ketika bakteri ditemukan hidup hingga kedalaman 2,8 kilometer. Penemuan cacing setan pada 2011 menjadi bukti pertama bahwa hewan juga mampu bertahan di biosfer dalam. Cacing setan mampu hidup bersama dengan lapisan mikroba yang menutupi bebatuan. Ukurannya sendiri hanya sepanjang beberapa helai rambut manusia. Mereka memangsa bakteri, yang menjadikannya predator terbesar dalam ekosistem kecil tersebut. Ketika mati, tubuhnya akan diuraikan oleh bakteri dan organisme mikroskopis lain, sehingga unsur hara kembali ke lingkungan dan mempertahankan siklus kehidupan di dunia bawah tanah. Temuan ini menunjukkan bahwa kehidupan tidak selalu membutuhkan energi Matahari maupun atmosfer yang kaya oksigen. "Jika kita bisa menemukan cacing di sana, apa lagi yang kita lewatkan? Tempat itu penuh dengan kemungkinan," kata ahli geomikrobiologi Universitas Southern California, Karen Lloyd, dilansir dari BBC, Kamis (30/7/2026).
Berawal dari satu cacing Cacing setan ditemukan pada 2008 oleh ahli biologi Gaetan Borgonie bersama timnya di Tambang Emas Beatrix, Afrika Selatan. Mereka menyaring lebih dari 6.000 liter air dari retakan batuan bersuhu sekitar 37 derajat Celsius di kedalaman 1,3 kilometer. Dari seluruh air tersebut, hanya ditemukan satu ekor cacing.
Di dua tambang lain, tim kemudian menyaring lebih dari 12 juta liter air dan menemukan berbagai spesies nematoda, jamur, mikroba, hingga invertebrata lain.
"Saya tidak pernah menyangka akan menemukan seluruh kebun binatang," ujar Borgonie. Cacing dari Tambang Beatrix ternyata merupakan spesies yang belum pernah dikenal sebelumnya. Pada 2011, ilmuwan menamainya Halicephalobus mephisto.
![]() |
| Daftar Akun InstaForex |
Terdapat fenomena menarik di mana saat proses penyaringan, para peneliti mendapati ekor cacing putus. Kondisi tersebut diketahui dapat membunuh sang cacing. Namun, para peneliti justru mendapati cacing tersebut betina serta mampu berkembang biak secara partenogenesis, yakni dapat menghasilkan keturunan tanpa membutuhkan cacing jantan. Sebelum mati, hewan temuan tersebut bahkan sempat menghasilkan delapan telur yang telah menetas.
"Kami sangat, sangat beruntung," kata Borgonie. Peneliti genom John Bracht bahkan menyebutnya sebagai "cacing yang selamat, seperti Harry Potter". Keturunan dari satu-satunya cacing itulah yang kini dipelajari di laboratorium untuk mengungkap rahasia ketahanannya.
Lebih suka berada di suhu mematikan Berbeda dengan nematoda lain yang tumbuh baik pada suhu ruangan, cacing setan justru berkembang sangat lambat pada suhu 20 derajat Celsius. Mereka membutuhkan sekitar delapan hari untuk menyelesaikan siklus hidupnya. Sebaliknya, pada suhu 37 derajat Celsius, suhu yang biasanya mematikan bagi banyak nematoda, cacing tersebut berkembang biak hanya dalam waktu sekitar dua hari. Ia juga tidak menyukai bakteri Escherichia coli yang biasa digunakan sebagai makanan nematoda laboratorium. Sebaliknya, ia memilih koloni bakteri lain yang lebih menyerupai makanan alaminya di bawah tanah.
Analisis genom yang dilakukan pada 2019 menemukan bahwa cacing setan memiliki jumlah gen pembentuk protein kejut panas (heat shock proteins) yang jauh lebih banyak dibanding kerabatnya. Protein tersebut berfungsi melindungi sel dari kerusakan akibat suhu ekstrem.
Pada 2024, tim peneliti juga menemukan bahwa molekul penting penghasil energi dalam tubuh cacing hanya bekerja optimal pada suhu tinggi.
Ketika berada pada suhu ruangan, molekul itu hampir berhenti bekerja sehingga metabolisme cacing melambat. Menurut Bracht, mekanisme tersebut kemungkinan merupakan strategi bertahan hidup agar cacing lebih aktif berkembang biak ketika berada di lingkungan yang sesuai, yakni lingkungan panas. Ilmuwan juga menduga kemampuan berkembang biak tanpa pasangan merupakan bentuk adaptasi lain. Di hamparan biosfer dalam yang sangat luas, peluang bertemu sesama spesies kemungkinan sangat kecil sehingga reproduksi aseksual menjadi keuntungan besar.
Potensi kehidupan di Mars Bagi para ilmuwan, cacing setan bukan sekadar hewan unik. Keberadaannya membuka kemungkinan baru mengenai bagaimana kehidupan pertama kali muncul di Bumi, sekaligus membantu pencarian kehidupan di planet lain. Jika kehidupan pernah ada di Mars, para peneliti menduga tempat paling mungkin menemukannya adalah di bawah permukaan planet tersebut.
Bahkan, apabila suatu hari asteroid besar memusnahkan seluruh kehidupan di permukaan Bumi, biosfer dalam berpotensi menjadi tempat kehidupan kembali muncul.
"Sebagai manusia, kita berpikir kita menguasai dunia, tetapi sebenarnya tidak," kata ahli biokimia Esta van Heerden, anggota tim penemu cacing tersebut. Menurutnya, organisme-organisme kecil itu mungkin telah bertahan selama jutaan bahkan miliaran tahun, dan sangat mungkin masih akan tetap hidup jauh setelah manusia tidak lagi ada.
Baca Juga :
- Kopi Instan Vs Kopi Filter, Mana yang Lebih Baik untuk Panjang Umur? Ini Kata Studi
- Kucing "Pengedar Narkoba" Ditangkap Saat Hendak Selundupkan Barang Terlarang ke Penjara Rusia, Ini Kronologinya

Tidak ada komentar: