Membesarkan anak, entah itu laki-laki maupun perempuan, membutuhkan pendekatan yang penuh kesabaran dan pemahaman. Setiap individu, terlepas dari gendernya, memiliki karakter dan cara mengekspresikan emosi yang berbeda-beda, tetapi ada satu keterampilan yang kerap luput diajarkan kepada anak laki-laki sejak dini, yakni kemampuan mengenali dan mengelola emosi, terutama kemarahan. Anak laki-laki kerap kali tumbuh dengan anggapan bahwa mereka harus kuat dan tidak boleh menunjukkan perasaan. Namun, menurut psikolog dan profesor di Roosevelt University Chicago, Steven Meyers mengatakan bahwa kemampuan memahami emosi perlu dibekali ke anak agar mereka mampu menghadapi berbagai tantangan hidup ke depannya dengan cara yang sehat. "Kemampuan itu perlu dikembangkan sebagaimana mereka belajar memahami konsep-konsep rumit dan abstrak lainnya," jelas Steven.
Ajarkan anak untuk mengenali emosinya Langkah pertama adalah mengajarkan anak untuk mengenali dan memahami apa yang sedang dirasakan, misalnya emosi seperti rasa marah. Kemarahan merupakan respons alami tubuh terhadap ancaman atau tekanan sehingga tidak selalu bermakna negatif. Namun, ketika anak tidak memiliki keterampilan untuk mengenali maupun menyalurkan emosi tersebut dengan cara yang sehat hal ini bisa menjadi masalah. Oleh karena itu, menurut Steven, orang tua perlu membantu anak memberi nama pada emosinya sebelum mengajaknya mencari solusi. Senada dengan Steven, pekerja sosial sekaligus konselor anak dan remaja, Kelsey Torgerson Dunn, mengatakan bahwa mengenali emosi menjadi fondasi dalam pengelolaan kemarahan.
"Langkah pertama dalam mengelola stres dan kemarahan adalah membantu anak mengenali apa yang sedang terjadi pada dirinya, lalu menunjukkan empati terhadap perasaan tersebut," kata Kelsey. Pada anak yang lebih kecil, orang tua dapat membantu dengan mengucapkan kalimat sederhana seperti "Nak, kamu sepertinya sedang frustrasi" atau "Kamu sekarang lagi marah karena Ibu bilang 'enggak' ke kamu, ya?". Sementara pada anak yang lebih besar, orang tua dapat mengajaknya berdiskusi mengenai apa yang sebenarnya mereka rasakan. Tetap tenang ketika anak sedang marah Ketika anak meluapkan kemarahannya, reaksi orang tua juga menentukan bagaimana anak belajar mengelola emosinya.
Steven menjelaskan bahwa anak-anak, terutama yang masih kecil, belum selalu mampu menenangkan dirinya sendiri. Jadi, kehadiran orang tua yang tetap tenang dapat membantu mereka kembali berpikir dengan lebih rasional.
"Kemarahan dapat membuat anak kecil kewalahan. Mereka belum tentu memiliki kemampuan untuk menenangkan diri sehingga bisa berpikir lebih rasional," ujar Steven.
Ahli menganjurkan agar orang tua dapat menjadi contoh cara mengelola emosi yang baik ke anak dengan mengatur napas, berbicara perlahan, dan menunjukkan kepada anak bahwa setiap emosi boleh dirasakan oleh anak. Dengan begitu, anak bisa belajar bahwa amarah bukan sesuatu yang salah, hanya saja cara mengekspresikannya tetap perlu dijaga.
Bimbing anak untuk membedakan emosi dan perilaku Namun perlu dipahami bahwa menunjukkan empati kepada emosi yang dirasakan oleh anak, bukan berarti membiarkan semua perilaku anak. Steven menegaskan bahwa orang tua tetap perlu memberikan konsekuensi ketika kemarahan berubah menjadi perilaku agresif, baik secara verbal maupun fisik. Hal tersebut dapat membantu anak untuk memahami bahwa emosi dan tindakan merupakan dua hal yang berbeda.
"Kamu boleh merasakan apa pun yang kamu rasakan, tetapi kamu tidak selalu boleh melakukan apa pun yang kamu inginkan," kata Steven. Konsekuensi yang diberikan dapat disesuaikan dengan usia dan kondisi anak, misalnya dengan mengurangi hak istimewa tertentu atau memberikan waktu bagi anak untuk menenangkan diri sebelum kembali berdiskusi.
Waspadai jika kemarahan muncul terlalu sering Meskipun amarah adalah emosi yang wajar untuk dirasakan, kemarahan yang muncul terlalu sering patut diwaspadai. Psikolog biasanya melihat frekuensi, durasi, intensitas, serta kesesuaian perilaku dengan usia anak ketika menilai apakah diperlukan evaluasi lebih lanjut.
Sementara Kelsey menyarankan orang tua berkonsultasi dengan dokter anak maupun tenaga kesehatan mental apabila perilaku agresif terjadi secara konsisten di rumah maupun di sekolah. "Orang tua tidak selalu mengetahui apa yang sebenarnya tersembunyi di balik kemarahan anak laki-laki mereka. Bisa jadi ada stres, kecemasan, atau depresi. Yang terpenting adalah mencari tahu apa penyebabnya," tutur Kelsey.
Tidak ada komentar: