Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani kesepakatan pada Rabu (17/6/2026) untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.
Kesepakatan itu memuat komitmen Teheran untuk mengurangi kandungan uranium yang diperkaya sebagai imbalan atas bantuan ekonomi berskala besar.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada AFP, Trump menandatangani nota kesepahaman tersebut saat makan malam bersama Presiden Perancis Emmanuel Macron di Istana Versailles setelah Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT G7.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei, sebagaimana dikutip kantor berita negara IRNA, mengatakan dokumen itu telah “diselesaikan dengan tanda tangan para presiden”.
Kesepakatan ini diharapkan dapat mengakhiri perang yang dimulai pada 28 Februari 2026 oleh Amerika Serikat dan Israel.
Konflik tersebut sebelumnya memicu serangan balasan Iran melalui rentetan rudal dan drone di sejumlah wilayah.
Iran juga disebut secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur perairan penting bagi perekonomian dunia.
“Sekarang saatnya untuk menguji implementasi perjanjian tersebut,” kata Baqaei.
Berdasarkan teks kesepakatan, Washington berkomitmen segera mencabut sanksi minyak yang selama ini melumpuhkan ekonomi Iran.
Amerika Serikat juga akan memfasilitasi pencairan dana rekonstruksi sebesar 300 miliar dolar AS yang didukung negara-negara kawasan setelah kesepakatan akhir mengenai program nuklir Iran tercapai.
Sebelumnya, kesepakatan itu dijadwalkan ditandatangani oleh kepala negosiator sekaligus Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dan Wakil Presiden AS JD Vance. Iran kemudian menyatakan upacara tatap muka tidak lagi diperlukan.
Iran sebut kesepakatan sebagai kegagalan AS
Iran mengeklaim kesepakatan tersebut sebagai “kegagalan” bagi Amerika Serikat. “Orang-orang akan melihatnya dan menilai,” kata Ghalibaf dalam siaran televisi pemerintah pada Rabu malam setelah teks kesepakatan dirilis kedua pihak.
China turut menyoroti dampak global dari kesepakatan tersebut. Beijing menyatakan diplomat utamanya telah menekankan kepada Teheran bahwa semua pihak perlu “benar-benar melaksanakan” komitmen masing-masing.
Meski demikian, keputusan Trump menghentikan perang memicu kegelisahan di antara sebagian sekutunya di dalam negeri.
Perang tersebut telah menewaskan 13 anggota militer AS dan menguras sebagian besar persediaan amunisi Amerika Serikat.
Perjanjian ini juga hanya bersifat sementara karena ditujukan untuk membuka jalan bagi negosiasi yang lebih terperinci.
Negosiasi itu akan membahas isu yang jauh lebih rumit, yakni pengendalian jangka panjang atas ambisi tenaga nuklir Iran.
Washington sejak lama mencurigai Iran memiliki program rahasia untuk membuat bom nuklir.
Trump pada Rabu sebelumnya mengatakan dirinya siap “membom habis-habisan” Iran apabila negara itu melanggar perjanjian.
Namun, Senator AS Bill Cassidy dari Partai Republik mengecam keras kesepakatan tersebut.
“Ambisi nuklir Iran tidak dibatasi, dan mereka telah belajar bahwa mengancam Selat Hormuz berhasil,” kata Cassidy.
“Sanksi akan dicabut, dan pemboman telah berhenti. Ini adalah kesalahan kebijakan luar negeri terburuk dalam beberapa dekade,” ujarnya.
Hizbullah sebut kemenangan besar bagi Iran
Pemimpin gerakan Syiah Lebanon pro-Teheran, Hizbullah, Naim Qassem, menyebut kesepakatan itu sebagai “kemenangan besar” bagi Iran.
Qassem berterima kasih kepada Teheran karena bersikeras agar gencatan senjata tersebut juga mencakup Lebanon.
Lebanon terseret ke dalam konflik setelah Hizbullah menembakkan roket ke Israel pada 2 Maret untuk mendukung Iran.
Negosiasi dua bulan dimulai
Kesepakatan itu membuka periode negosiasi selama dua bulan. Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi langkah pertama yang paling dinantikan dalam proses tersebut.
Berdasarkan ketentuan yang dirilis pejabat AS, Iran akan mengurangi stok uranium yang diperkaya.
Pengurangan tersebut kemungkinan dilakukan melalui “pencampuran di tempat di bawah pengawasan IAEA”, badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB.
Langkah itu disebut dapat membuka jalan bagi bantuan ekonomi yang lebih luas untuk Iran. Namun, seorang pejabat AS mengatakan Washington tidak akan diwajibkan memberikan kontribusi finansial.
Harga minyak sempat turun dalam beberapa hari terakhir seiring meningkatnya optimisme terhadap tercapainya kesepakatan perdamaian yang lebih langgeng di Timur Tengah.
Arah harga kemudian berbalik pada Rabu setelah muncul ketidakpastian terkait penandatanganan kesepakatan tersebut.
Harga minyak sempat melonjak lima persen sebelum kembali stabil pada hari yang sama.
Kekerasan di Lebanon belum sepenuhnya berhenti
Kekerasan di Lebanon menurun setelah pengumuman kesepakatan tersebut. Meski begitu, serangan Israel di wilayah selatan Lebanon disebut telah menewaskan sedikitnya lima orang sejak kesepakatan diumumkan, menurut media pemerintah.
Media pemerintah juga melaporkan adanya serangan Israel di Lebanon selatan pada Rabu.
Tentara Israel mengatakan lima tentaranya terluka pada Rabu, dengan satu orang dalam kondisi parah, akibat ledakan drone di Lebanon selatan.
Pengumuman itu menjadi laporan pertama Israel terkait korban di Lebanon sejak kesepakatan AS-Iran diumumkan.
Militer Israel juga menyatakan angkatan udaranya mencegat “beberapa roket” yang diluncurkan ke arah pasukannya di Lebanon selatan.
Israel tidak melaporkan adanya korban jiwa dalam insiden tersebut.
Tidak ada komentar: