Pemadaman listrik bergilir masih terjadi di sejumlah wilayah di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur dalam beberapa hari terakhir. Wilayah yang terdampak antara lain Demak, Semarang, Solo, Bekasi, Bandung, Surabaya, Pasuruan, Sidoarjo, dan Gresik. Di beberapa daerah, aliran listrik padam selama berjam-jam dan terjadi berulang dalam sepekan terakhir, sehingga berdampak pada aktivitas warga maupun pelaku usaha. Tak hanya itu, peralatan listrik seperti kulkas, lampu, stop kontak, dan lain sebagainya juga dikhawatirkan dapat terdampak.
Lantas, apa dampak pemadaman listrik yang sering terjadi terhadap peralatan listrik?
Apakah pemadaman listrik bisa merusak peralatan elektronik? Dosen Pendidikan Teknik Elektro Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Toto Sukisno, mengatakan pemadaman listrik yang berlangsung selama beberapa jam umumnya tidak langsung merusak peralatan elektronik rumah tangga. Menurut dia, kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan saat peralatan sengaja dimatikan oleh pengguna.
"Kalau tidak sering on off sebenarnya tidak terlalu berpengaruh, karena matinya listrik seperti kasus yang sekarang dialami adalah mati dengan durasi yang lama 2-3 jam," ujar Toto kepada Kompas.com, Minggu (21/6/2026). Toto menjelaskan, pada kulkas misalnya, dampak utama pemadaman listrik justru lebih dirasakan oleh bahan makanan yang disimpan di dalamnya apabila listrik padam terlalu lama. Sementara itu, risiko kerusakan peralatan lebih mungkin terjadi apabila listrik mengalami kondisi hidup-mati secara berulang dalam waktu singkat. "Kulkas sebenarnya ketika sengaja dimatikan selama tidak ada bahan atau makanan yang dikondisikan atau diawetkan tidak ada masalah. Artinya yang jadi masalah adalah makanan atau bahan yang diawetkan," jelasnya.
Perangkat elektronik rentan rusak jika listrik sering mati-nyala Sementara itu, pakar instalasi kelistrikan Helvin Herman Tirtadjaja mengatakan, pemadaman listrik yang disertai kondisi mati-nyala berulang dapat meningkatkan risiko kerusakan pada peralatan elektronik. Menurut dia, saat listrik kembali menyala dapat terjadi lonjakan tegangan yang membuat komponen elektronik bekerja secara mendadak setelah sebelumnya kehilangan daya. Dalam standar kelistrikan, kondisi tersebut dikenal dengan istilah voltage dip, short interruption, dan transient overshoot. Ketiganya dapat memberikan tekanan pada rangkaian elektronik, terutama perangkat yang memiliki komponen sensitif.
"Setiap mati-nyala menyebabkan arus awal tinggi (inrush current), stres pada komponen, dan pemanasan mendadak," kata Helvin, dikutip dari Kompas.com pada Sabtu (20/6/2026).
Helvin menjelaskan, televisi modern, khususnya jenis LED dan OLED, termasuk perangkat yang rentan terdampak. Saat listrik kembali menyala, komponen seperti power supply harus menerima arus awal dalam jumlah besar sehingga dapat mempercepat keausan komponen. Jika terjadi berulang kali, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan televisi sulit menyala, layar bermasalah, hingga kerusakan pada modul daya. Selain televisi, komputer desktop juga tergolong rentan karena membutuhkan pasokan listrik yang stabil untuk menjaga kinerja berbagai komponennya.
Cara mengurangi risiko kerusakan Untuk mengurangi risiko kerusakan akibat gangguan listrik, masyarakat dapat menggunakan perangkat pelindung seperti surge protector atau stabilizer.
Khusus untuk komputer, penggunaan uninterruptible power supply (UPS) dapat membantu menjaga pasokan listrik sementara sehingga perangkat dapat dimatikan dengan aman saat terjadi pemadaman.
Selain itu, mencabut steker perangkat elektronik saat listrik padam juga dapat menjadi pilihan, terutama di wilayah yang sering mengalami kondisi mati-nyala berulang.
Tidak ada komentar: