Ada yang berbeda di Piala Dunia 2026. Ada tiga wasit perempuan yang berdiri tegak di tengah untuk mengawasi pertandingan. Dengan gagah, Tori Penso, Brooke Mayo, dan Kathryn Nesbitt mengawasi para pemain timnas yang seluruhnya adalah pria. Ketiganya sempat memimpin pertandingan babak penyisihan grup antara Republik Ceko melawan Afrika Selatan. Mereka menjadi kru wasit pertama yang semuanya perempuan dan seluruhnya berasal dari Amerika Serikat di ajang Piala Dunia 2026. Sebetulnya, mereka bukan wasit perempuan pertama di Piala Dunia. Dulu ada juga para perempuan yang dilibatkan dalam turnamen Piala Dunia 2022 di Qatar.
Salah satu pertandingan tahun itu, Jerman vs Kosta Rika di babak penyisihan grup dipimpin oleh tiga wasit perempuan. Yakni Stéphanie Frappart dari Prancis, Neuza Back dari Brasil, dan Karen DÃaz dari Meksiko. Namun adanya para perempuan yang hadir di Piala Dunia 2026, menunjukkan sepak bola bukanlah pertandingan untuk gender tertentu. Semua orang baik perempuan, pria, tua, muda, bahkan anak-anak boleh saja menikmati apalagi ikut bermain sepak bola. Cerita para wasit perempuan di Piala Dunia 2026 Dulu Nesbitt merupakan satu dari enam perempuan yang terpilih untuk memimpin pertandingan di Qatar. Sementara Penso dan Mayo melakoni debut Piala Dunia 2026 mereka pada pertandingan hari Kamis (18/6/2026) kemarin. Ketiganya terpilih untuk memimpin pertandingan di Olimpiade 2024 dan telah menjadi anggota panel wasit FIFA selama bertahun-tahun. Penso, wasit utama FIFA yang pernah jadi sales "Wasit perempuan itu mampu, baik secara fisik, mental, maupun teknis," kata Penso, salah satu wasit perempuan yang dilansir dari Washington Post, Kamis (18/6/2026). Ia sendiri bangga dengan apa yang telah berhasil ia lalui. Walaupun selama menjadi wasit Piala Dunia 2026, banyak hal yang harus dilakukannya. Penso bertindak sebagai wasit utama yang didampingi Mayo dan Nesbitt sebagai asisten wasit (hakim garis). Trio ini telah bekerja bersama beberapa kali, termasuk di final Piala Dunia Wanita 2023, Piala Dunia Antarklub 2023, dan Concacaf Nations League 2024.
Penso berusia 39 tahun dan memiliki karier yang panjang di bidang pemasaran sembari tetap terlibat dalam sepak bola sebagai wasit paruh waktu. Sebelum akhirnya menjadikan perwasitan sebagai karier penuh waktu pada tahun 2017. Pada tahun 2020, ia menjadi perempuan pertama yang memimpin pertandingan musim reguler MLS sejak tahun 2000. Kisah Nesbitt, yang punya gelar profesor Sama dengan Penso, Nesbitt mengatakan pengalaman ini sangat berarti baginya yang seorang perempuan. "Ini adalah impian yang mustahil bagi saya, dan hanya dengan bisa menyaksikan para perempuan di ajang ini sekarang membuat hal tersebut menjadi realistis bagi semua perempuan," kata Nesbitt Baik itu dalam dunia perwasitan, di cabang olahraga lain, atau dalam sesuatu yang sama sekali berbeda, baginya perempuan tetap bisa terlibat. "Terkadang hanya dengan melihat visual seperti itu dapat membuat sesuatu menjadi nyata. Jika saya bisa memainkan peran kecil sekalipun dalam hal itu, itu sangat keren," Kata Nesbitt.
Nesbitt berusia 37 tahun dan menempuh jalur yang lebih tidak biasa untuk mencapai panggung ini. Ia meraih gelar PhD di bidang kimia dari University of Pittsburgh pada tahun 2015. Setelah dua tahun melakukan penelitian pascadoktoral, ia menghabiskan dua tahun sebagai profesor di Towson University. Namun pada tahun 2019, Nesbitt mengundurkan diri untuk mengejar kariernya sebagai wasit. Mayo, membagi waktu antara menjadi wasit dan guru Mayo juga berusia 37 tahun tahun ini. Ia dulunya membagi waktu antara karier perwasitan dan bekerja sebagai pendidik serta pelatih di sekolah negeri. Sebelum Piala Dunia Wanita 2023 digelar, ia memilih untuk fokus menjadi wasit penuh waktu. Namun, ia berniat untuk kembali ke dunia pendidikan sebagai guru olahraga SMP di Colorado pada musim gugur ini. Ia dinobatkan sebagai wasit wanita terbaik U.S. Soccer tahun 2025 pada bulan Januari lalu.
"Meskipun saya melihat kami hanya sebagai trio normal yang telah mendapatkan tempat di Piala Dunia FIFA ini, saya tahu kami mewakili sesuatu yang lebih besar dari diri kami sendiri," kata Mayo. "Tidak ada faktor yang dapat membatasi Anda untuk mencapai impian Anda, asalkan Anda bersedia berkorban, bekerja keras, dan memanfaatkan kesempatan yang datang," tutup Mayo.
Tidak ada komentar: