7 Cara Mengajarkan Anak Berani Berkata Tidak

 


Kemampuan anak untuk berani berkata “tidak” menjadi bagian penting dalam membangun batasan diri dan menjaga kesehatan mentalnya.  Namun, keberanian ini tidak muncul begitu saja, melainkan perlu dilatih sejak dini melalui pola komunikasi dan pengasuhan yang tepat di rumah. Menurut Psikolog Anak dan Remaja, Fabiola Priscilla, M.Psi, peran orangtua sangat besar dalam membentuk keberanian anak untuk menyampaikan pendapat, termasuk saat harus menolak sesuatu yang tidak ia sukai. Hal serupa juga disampaikan oleh Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga Farraas Afiefah Muhdiar menekankan. Berikut cara mengajarkan anak berani berkata tidak.

7 Cara mengajarkan anak agar berani berkata tidak 1. Dengarkan anak dengan tulus sejak awal

Langkah pertama yang penting adalah membangun pengalaman komunikasi yang menyenangkan bagi anak. Hal ini dapat dimulai dengan kebiasaan mendengarkan cerita anak secara utuh tanpa menghakimi. “Orangtua dapat mendengarkan secara utuh dan tulus sehingga anak perempuan memiliki pengalaman yang menyenangkan setika secara bercerita,” kata Fabiola saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (21/4/2026). Senada dengan itu, Farraas menegaskan pentingnya kemampuan mendengarkan yang baik dari orangtua.

“Pastinya orangtua perlu menunjukkan kemampuan mendengarkan yang baik. Ketika anaknya cerita didengerin dengan sungguh-sungguh, eye contact, jangan langsung motong, jangan langsung banyak ceramah,” jelasnya. Ketika anak merasa didengar, ia akan lebih percaya diri untuk menyampaikan perasaan dan pendapatnya di kemudian hari. 2. Validasi perasaan sebelum memberi arahan Setelah mendengarkan, langkah berikutnya adalah memvalidasi perasaan anak. Hal ini membantu anak merasa bahwa emosinya dihargai dan tidak dianggap remeh. “Kemudian validasi perasaannya, sebelum berdiskusi dan menentukan suatu pilihan atau keputusan,” ujar Fabiola.

Farraas juga menekankan pentingnya memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan alasan atas ketidaksukaannya. “Ajarkan anak untuk berkomunikasi secara asertif dan memperbolehkan anak jika ada yang dia tidak suka. Dengarkan alasannya dan jangan langsung dipotong, tetapi validasi pendapatnya dulu,” tambahnya. Dengan validasi yang tepat, anak belajar bahwa perasaannya sah dan layak untuk diungkapkan.

3. Biasakan anak memiliki pilihan Membiasakan anak membuat pilihan sederhana dapat menjadi latihan awal untuk membangun keberanian dalam menyatakan keinginan. “Membiasakan anak untuk boleh punya pilihan, meskipun pilihannya terbatas gitu. Misalnya sesimpel memilih baju sehari-hari saja,” terang Farraas. Dari kebiasaan kecil ini, anak belajar bahwa pendapatnya penting dan memiliki konsekuensi, sehingga ia lebih berani untuk menyampaikan preferensinya.

4. Bangun budaya komunikasi terbuka di rumah Lingkungan keluarga yang terbuka menjadi fondasi penting agar anak nyaman berbicara. Orangtua tidak hanya mendengarkan, tetapi juga memberi contoh dengan berbagi cerita. “Membiasakan budaya untuk ngobrol di rumah, saling bercerita termasuk orangtuanya juga mencontohkan untuk membagi perasaan dan cerita aktivitas hari ini,” jelas Farraas.

Dengan budaya ini, anak memahami bahwa rumah adalah tempat aman untuk mengekspresikan diri, termasuk ketika merasa tidak nyaman.

5. Siapkan anak menghadapi perbedaan pendapat Seiring bertambahnya usia, anak akan menghadapi situasi di mana tidak semua orang setuju dengan dirinya. Orangtua perlu membantu anak memahami kondisi tersebut. “Setelah pengalaman demi pengalaman baik dialami anak, orangtua mulai dapat memperdalam diskusi, jika akan ada saatnya tidak semua orang menyetujui pendapat kita,” kata Fabiola. Pemahaman ini penting agar anak tidak takut ditolak dan tetap berani menyampaikan pendapatnya. 6. Latih dengan bermain peran Salah satu cara efektif melatih keberanian anak adalah melalui simulasi. Metode bermain peran dapat membantu anak memahami berbagai situasi sosial.

“Ajak anak untuk bermain peran, dimana orangtua akan berperan menjadi anak perempuan, dan anak perempuan berperan menjadi orang yang tidak menyukai pendapat,” imbau Fabiola. Dengan latihan ini, anak memiliki gambaran nyata tentang bagaimana merespons penolakan atau perbedaan secara tepat. 7. Berikan contoh sikap  Anak belajar banyak dari apa yang ia lihat. Oleh karena itu, orangtua perlu menunjukkan bagaimana menghadapi perbedaan dengan sikap yang dewasa.

“Orangtua dapat memberikan contoh sikap dan perilaku yang matang untuk menghadapi perbedaan pendapat atau situasi lain yang tidak sesuai harapan,” tutup Fabiola. Keteladanan ini akan membantu anak memahami bahwa berkata “tidak” bukan berarti bersikap kasar, melainkan bagian dari komunikasi yang sehat dan asertif.



SUMBERhttps://lifestyle.kompas.com/read/2026/04/22/080500320/7-cara-mengajarkan-anak-berani-berkata-tidak-?page=2

7 Cara Mengajarkan Anak Berani Berkata Tidak 7 Cara Mengajarkan Anak Berani Berkata Tidak Reviewed by wongpasar grosir on 08.17 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.